Jakarta, Aktual.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau agar fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) perlu diperkuat untuk menghadapi potensi gempa.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing diikuti daring di Jakarta, Senin (5/12), mengatakan berkaca dari kejadian gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, cukup banyak fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan.

“Cukup banyak fasilitas pendidikan yang rusak ada kalau kita Bali ada sekitar 525 fasilitas pendidikan yang rusak dan gempa terjadi (pukup) 13.21 WIB, masih dalam waktu sekolah,” ujar Abdul.

Abdul mengatakan kerusakan bangunan juga mempengaruhi jumlah korban jiwa. Dalam data agregasi yang dimiliki BNPB. Sebanyak 280 orang dari total 334 korban jiwa, 21 persen merupakan balita, dan anak umur 6-16 tahun yakni 33 persen.

Jika digabungkan, korban jiwa anak-anak di bawah 16 tahun yakni 44 persen, atau hampir dari setengah jumlah korban jiwa. Inilah yang menjadi perhatian BNPB, sebab gempa terjadi siang hari atau pada saat jam sekolah masih berlangsung .

“Kalau kita tidak bisa menjamin kekuatan bangunan-bangunan sekolah kita, atau bangunan-bangunan, mungkin ada Madrasah, SMP dan lain-lain, ini mungkin peluang terjadinya atau jatuhnya korban itu cukup besar. Seharusnya memang fasilitas pendidikannya harus bangunan cukup kuat dari awal,” kata Abdul.

Tidak hanya fasilitas pendidikan, sebanyak 14 fasilitas kesehatan juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa Cianjur. Kemudian 114 orang masih mengungsi akibat terdampak gempa.

“Ini menjadi konsep kita juga tidak hanya di rumah-rumah penduduk, tetapi fasum danĀ fasos kita masih perlu harus kita tingkatkan kekuatannya, khususnya menghadapi gempa ini,” ujar dia.*

(Andy Abdul Hamid)