Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Alpino Kianjaya (kiri) berbincang dengan Direktur Utama PT Emdeki Utama Tbk, Hiskak Secakusuma (tengah) dan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Hamid Hassyarbaini disela pencatatatan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta ,Senin (25/9). Produsen kalsium karbida pertama dan satu satunya di Indonesia resmi telah mencatatkan sahamnya di BEI dengan kode saham MDKI.Perseroan melepas sejumlah 307.250.000 lembar saham baru atau setara dengan 17% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Perseroan akan menggunakan 73,91% dana hasil IPO untuk belanja modal.Dari jumlah tersebut, sebesar 48,96% untuk membiayai pembangunan pabrik highh grade silica alloy dan 24,95% untuk membangun pabrik carbide desulphuriser.Sementar itu, sekitar 13,41% dana hasil IPO akan dialokasikan untuk modal kerja kedua pabrik tersebut dan sisanya 12,68% bakal digunakan untuk modal kerja produksi kalsium karbida.Sementara pada tahun 2016, volume produksi perseroan sebanyak 21.185 metrik ton, dengan volume penjualan sebanyak 21.169 metrik ton. AKTUAL/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com  – Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Pasar Keuangan Dubai (DFM) bersepakat untuk bekerja sama dalam pengembangan keuangan syariah, misalnya menjadikan Indonesia sebagai hub atau pusat pasar keuangan syariah global.

Usai bertemu dengan otoritas pasar keuangan di Dubai, Uni Emirat Arab(UEA), Minggu (29/10), Direktur Utama BEI Tito Sulistio belum bisa merinci kesepakatan awal itu.

Dikatakannya, dua pekan ke depan, pihaknya kembali akan bertemu dengan mereka di Dubai untuk pembicaraan lanjutan.

Tito optimistis harapan kerja sama itu bakal terlaksana karena empat keuangan syariah terbesar saat ini yakni Dubai, Turki, Malaysia dan Indonesia tentunya memiliki pandangan yang sama bahwa bersinergi lebih baik dalam meningkatkan pangsa keuangan syariah di keuangan global.

Ia menyatakan pernah menyampaikan rencana pengembangan pasar modal syariah kepada otoritas di Indonesia. Ia yakin pemerintah dan otoritas bakal mendukungnya karena itu adalah upaya baru dalam memobilisasi dana sebagai sumber pembiayaan.

Pasar modal syariah Indonesia kini memiliki empat efek syariah yang dapat ditransaksikan investor, 343 saham syariah, 160 reksadana syariah, satu ETF syariah, 68 sukuk korporasi dan 29 sukuk pemerintah.

Per Juni 2017 dibandingkan tahun sebelumnya return indeks saham syariah Indonesia meningkat sebesar 28,1 persen.

Kapitalisasi saham syariah dalam lima tahun terakhir meningkat 42 persen menjadi Rp3.479 triliun. Sementara kapitalisasi total saham saat ini sebesar Rp6.473 triliun.

Artikel ini ditulis oleh:

Antara
Eka