Jakarta, Aktual.co — Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menantang PT Pertamina (Persero) untuk juga membubarkan Pertamina Energy Services (PES) selain PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Pasalnya, PES dinilai sebagai biang permasalahan mafia migas di Tanah Air.

Menanggapi hal itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro hanya menegaskan bahwa ISC sudah banyak mengantongi efisiensi dan mampu memberikan harga terbaik bagi Pertamina.

“Intinya ISC sudah banyak bukukan efisiensi dari proses tender kompetitif untuk dapatkan harga terbaik,” kata Wianda kepada Aktual dalam pesan singkatnya, Jakarta, Selasa (5/5).

Sebelumnya, Anggota BPK bidang VII, Achsanul Qosasih menilai dibubarkannya Petral bukanlah sebuah prestasi bagi Pemerintah dan Pertamina selaku induk usaha. Pasalnya, memang sudah sejak lama Petral itu hanya menjadi perusahaan mati.

“Apakah ditutupnya Petral kemudian dikatakan Pertamina hebat? Tidak, karena memang petral itu perusahaan kosong,” kata Achsanul di Jakarta, Rabu (29/4).

Dirinya justru menantang Pemerintah dan Pertamina untuk membubarkan Pertamina Energy Service (PES) yang disebutnya selama ini menjadi biang dari carut marutnya permasalahan Migas di Tanah Air.

“Tapi kalau berani tutup PES, ga ada yang tahu, disitulah yang sebenarnya. Di satu sisi ada juga ISC (Integrated Supply Chain, unit usaha Pertamina), orangnya ISC yah orang PES, orangnya dia-dia juga, dia yang beli dia yang atur, dia yang hukum, dia yang denda, dia yang bayar. Yang begini-begini saya sudah sampaikan dihasil pemeriksaan,” terangnya.

Achsanul juga mengungkapkan bahwa selama ini sudah banyak orang tertipu dengan isu Petral sebagai sumber mafia migas.

“Saya rasa kira semua sudah tertipu, Petral, Petral, Petral di kepala kita itu Petral mafia migas,” sebutnya.

Ia menceritakan, pihaknya pernah mencoba memulai pendahuluan audit, namun faktanya tidak dapat dilanjutkan karena berdasarkan temuan Petral hanyalah perusahaan mati yang hanya memiliki jumlah karyawan dalam hitungan jari.

“Begitu saya masuk BPK, saya suruh cek, saya buat pendahuluan, dua tiga orang saya kirim. Adanya dimana? Di Singapura. Ternyata hanya counter kecil, ternyata di Hongkong. Saya datengin ke Hongkong, cuma tiga orang, cuma penerima telpon, tukang fax dan segala macam. Terus apa yang mau kita periksa? Neraca? Ga ada, ga ada aktivitas, saya bilang jadi selama ini Petral apa? Dibilang, bukan Petral katanya selama ini yang kerja. Lalu kita telusuri transaksi Pertamina, ada namanya PES, itu sebenarnya yang kerja,” jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka