(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik mengungkapkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2019 mengalami inflasi 0,02 persen secara bulanan (month-to-month) yang didominasi kenaikan kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok.

Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, mengatakan realisasi ini menjadikan inflasi Januari-Oktober 2019 mencapai 2,20 persen (year to date/ytd). Jika dibandingkan dengan Oktober 2018, inflasi tahunan hingga Oktober 2019 sebesar 3,13 persen (year on year/yoy).

“Ini menunjukkan besaran inflasi ini terkendali, sekarang tinggal dua bulan lagi menuju tutup tahun 2019, dan saya yakin target inflasi akan tercapai,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan inflasi tahunan sepanjang 2019 di 3,5 persen (yoy). Sementara, Otoritas moneter Bank Indonesia menjangkar inflasi tahunan di 2,5-4,5 persen (yoy)

Jika dibandingkan September 2019, inflasi bulanan pada bulan kesepuluh ini menunjukkan penurunan dibanding 0,27 persen (mtm) pada September 2019.

Suhariyanto menjelaskan jika dilihat secara komponen, kelompok bahan makanan jadi, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,45 persen dengan sumbangan kepada inflasi sebesar 0,08 persen. Dari komponen ini komoditas yang cukup dominan kepada inflasi adalah nasi dan lauk pauk, rokok kretek dan rokok putih yang menyumbang inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

Komponen kedua yang megalami inflasi tertinggi adalah kelompok tarif kesehatan dengan tingkat inflasi 0,3 persen. Kelompok tarif kesehatan ini seperti jasa kesehatan inflasi 0,15 persen, obat-obatan inflasi 0,71 persen, perawatan jasmani dan kosemtika inflasi 0,29 persen. Namun, andil kelompok ini relatif kecil terhadap inflasi yakni hanya 0,01 persen.

Di kelompok bahan makanan secara keseluruhan tercatat deflasi 0,41 persen dengan kontribusi deflasi 0,08 persen. Namun terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan yakni harga daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen.

“Tetapi karena banyak komoditas yang mengalami penurunan harga seperti cabai, maka bahan makanan mengalami deflasi 0,41 persen,” katanya.

Sementara itu, inflasi inti masih bergerak 0,17 persen. Oleh karena itu, Suhariyanto meyakini deflasi di kelompok bahan makanan bukan terjadi karena penurunan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data BPS, inflasi terjadi di 43 kota di Indonesia, sedangkan 39 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara, sebesar 1,22 persen dan terendah terjadi di tiga kota yakni Pematang Siantar, Tual, dan Ternate sebesar 0,01 persen.

(Arbie Marwan)