Pekanbaru, aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah pengangguran terbuka di Provinsi Riau hingga Agustus 2019 tercatat sebanyak 190.140 orang, yang didominasi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Dilihat dari tingkat pendidikan pada Agustus 2019, tingkat pengangguran terbuka untuk sekolah menengah kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain yaitu sebesar 9,85 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Riau, Misfaruddin di Pekanbaru, Kamis.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi berikutnya terdapat pada sekolah menengah atas (SMA) sebesar 8,39 persen. Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA.

“Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 2,88 persen,” ujarnya.

Ia menjelaskan TPT adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja

Misfaruddin mengatakan angka pengangguran terbuka Riau pada Agustus ini sebanyak 190.140 orang setara dengan 5,97 persen dari jumlah angkatan kerja di Provinsi Riau yang sebanyak 3,19 juta orang. Angka pengangguran terbuka menurut BPS menurun dibandingkan periode yang sama pada 2018.

Komponen pembentuk angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan pengangguran.

“Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Riau pada Agustus 2019 mencapai 5,97 persen, menurun 0,23 persen poin dibanding Agustus 2018 yang mencapai 6,20 persen,” katanya.

Meski angka pengangguran terbuka turun, jumlah angkatan kerja di Riau naik sekitar 77 ribu orang dibandingkan tahun lalu. Penduduk Provinsi Riau yang bekerja mencapai tiga juta orang, meningkat sebanyak 80,48 ribu orang dibanding Agustus 2018.

“Tapi tingkat partisipasi Angkatan Kerja atau TPAK mengalami penurunan 0,13 persen poin, dari 65,23 persen pada Agustus 2018 menjadi 65,10 persen pada Agustus 2019,” katanya.

Menurut dia, penurunan TPAK memberikan indikasi adanya penurunan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan TPAK antara laki-laki dan perempuan. Pada Agustus 2019, TPAK laki-laki sebesar 83,73 persen sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 45,45 persen.

“Dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu, TPAK laki-laki mengalami penurunan sebesar 0,04 persen poin dan TPAK perempuan juga mengalami penurunan sebesar 0,21 persen poin,” katanya. [Eko Priyanto]

(Zaenal Arifin)