Jakarta, Aktual.co — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dalam dua triwulan terakhir mengalami kontraksi bukan merupakan awal resesi. “Kita belum bisa katakan ini awal resesi, walaupun dua bulan berturut-turut (triwulan I-2015 dan triwulan IV-2014)mengalami kontraksi,” ujar Suryamin saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/5).
Pada triwulan I-2015, ekonomi Indonesia tumbuh 4,71 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2014 yang mencapai 5,14 persen. Sedangkan pada triwulan IV 2014, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,01 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,72 persen.
“Kita belum bisa simpulkan begitu (adanya gejala resesi) dengan cepat. Kan baru satu triwulan, masih ada tiga triwulan lagi tahun ini kan,” kata Suryamin.
Menurut Suryamin, kontraksi pada triwulan IV 2014 tahun lalu tidak dapat dibandingkan dengan kontraksi pada triwulan I 2015. “Triwulan IV selalu kontraksi karena biasanya pada triwulan II dan triwulan III pemerintah menggenjot pembangunan, sehingga pembandingnya besar. Tapi kalau kontraksi pada triwulan I 2015 itu memang baru pertama kali sejak 2011,” kata Suryamin.
Suryamin menambahkan, apabila penggunaan anggaran proyek pembangunan infrastruktur pemerintah digulirkan tepat waktu maka akan bisa mendorong ekonomi. “Infrastruktur itu kan internal, jadi bisa dikontrol. Tapi kalau ekonomi global tidak bisa dikontrol, misalnya harga komoditas, karena itu tergantung pasar internasional dan tergantung membaiknya negara-negara tujuan ekspor kita,” ujar Suryamin.

Artikel ini ditulis oleh: