Petugas mengamati posisi hilal di Pusat Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu, Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (27/5/2025). Pemantauan hilal Kementerian Agama (Kemenag) DIY untuk menentukan awal bulan Zulhijah dan Idul Adha 1446 H tertutup awan mendung sehingga hilal tidak tampak. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/rwa.

Jakarta, aktual.com – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) memperkirakan awal Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi berpotensi berbeda di Indonesia, bergantung pada pendekatan yang digunakan dalam penetapan hilal.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa perbedaan kali ini bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan pada pendekatan hilal global dan hilal lokal.

“Perbedaan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena beda metode (hisab vs rukyat) atau beda kriteria (Wujudul Hilal vs Imkan Rukyat). Perbedaan kali ini karena beda hilal global vs hilal lokal,” ujar Thomas kepada wartawan, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, hilal global merujuk pada terpenuhinya kriteria Imkanur Rukyat di mana pun di dunia. Berdasarkan perhitungan, pada saat magrib 17 Februari, kriteria tersebut terpenuhi di wilayah Alaska.

“Hilal global merujuk terpenuhinya kriteria Imkan Rukyat di mana saja. Pada saat magrib 17 Februari kriteria itu terpenuhi di Alaska, maka pengguna Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) menetapkan awal Ramadan 18 Februari 2026,” ujar Thomas.

Sementara itu, hilal lokal mengacu pada wilayah Indonesia dan Asia Tenggara. Pada waktu magrib 17 Februari, posisi hilal dinilai belum memenuhi kriteria Imkanur Rukyat, bahkan di Indonesia masih berada di bawah ufuk.

“Hilal lokal merujuk wilayah Indonesia dan Asia Tenggara. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal belum memenuhi kriteria Imkan Rukyat, bahkan di Indonesia posisi bulan masih di bawah ufuk,” kata dia.

Dengan pendekatan hilal lokal, awal Ramadan diprediksi jatuh pada 19 Februari 2026. Namun demikian, penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

“Maka secara hisab dan (nanti dibuktikan) secara rukyat awal Ramadhan pada 19 Februari 2026,” ujarnya.

Mengacu pada informasi dari situs Bimas Islam Kementerian Agama, sidang isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H akan digelar hari ini di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, mulai pukul 16.30 WIB.

Rangkaian sidang dimulai dengan seminar posisi hilal pukul 16.30 WIB, dilanjutkan pelaksanaan sidang isbat pukul 18.30 WIB, dan pengumuman hasil melalui konferensi pers sekitar pukul 19.05 WIB.

Pemantauan hilal akan dilakukan serentak di berbagai titik di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dengan melibatkan tim daerah serta para relawan pengamat hilal.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain