Jakarta, Aktual.com – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai stok beras Bulog yang mencapai sekitar 3,2 juta ton pada awal 2026 berpotensi menekan pengelolaan anggaran dan tata kelola pangan nasional. Tanpa strategi pelepasan yang terukur, cadangan tersebut dinilai berisiko menimbulkan beban fiskal akibat penurunan kualitas beras.
Research Associate CORE Indonesia Dwi Andreas Santosa, mengatakan beras memiliki keterbatasan daya simpan sehingga tidak ideal ditahan terlalu lama. “Beras itu perishable. Setelah empat bulan kualitas rasa menurun, dan lebih dari satu tahun kualitas fisiknya ikut turun,” ujarnya dalam CORE Outlook Sektoral 2026 di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, beras yang kualitasnya menurun berpotensi masuk kategori disposal dan berdampak langsung pada keuangan negara. “Jika disposal mencapai satu juta ton, potensi kerugian fiskalnya bisa sekitar Rp12 triliun,” kata Andreas.
Berdasarkan data CORE, stok awal 2026 menjadi yang tertinggi dalam sekitar 25 tahun terakhir. Kondisi ini merupakan akumulasi penyerapan beras oleh Bulog sepanjang 2025, ditambah sisa impor dari tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, produksi beras nasional 2025 meningkat sekitar 13 persen secara tahunan. Namun, peningkatan produksi tersebut tidak diikuti dengan penurunan harga beras di tingkat konsumen.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, harga beras tercatat terus naik sebelum sempat stabil dan kembali menguat. Berdasarkan data pemerintah, harga beras berada di kisaran Rp15.800 per kilogram.
Andreas menilai pola penyerapan surplus produksi yang terpusat di gudang pemerintah turut memengaruhi dinamika harga. “Ketika surplus produksi sebagian besar ditarik ke Bulog, pasokan di pasar menjadi terbatas dan harga terdorong naik,” ujarnya.
Memasuki 2026, tantangan pengelolaan pangan dinilai semakin kompleks seiring risiko iklim. CORE mencatat potensi El Nino pada pertengahan 2026 hingga 2027 yang berpeluang menekan produksi dan menambah tekanan pada kebijakan stok serta anggaran pangan.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















