Jakarta, aktual.com – Center of Economic and Law Studies (Celios) meyakini akselerasi transisi energi dan merevisi APBN dapat menjaga keandalan pasokan BBM di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan harga.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara dihubungi di Jakarta, Rabu (4/3), mengatakan upaya implementasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam mengakselerasi transisi energi yakni memaksimalkan pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti air, angin dan surya.
“Percepat transisi energi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan dari air, angin, dan surya,” ujar dia.
Menurut dia, percepatan elektrifikasi, khususnya pada transportasi publik berbasis kendaraan listrik (EV), akan membantu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
Selain itu, pengurangan ketergantungan pembangkit listrik terhadap energi fosil turut menjadi kunci untuk meredam dampak gejolak harga minyak global terhadap perekonomian domestik.
Di sisi lain, Bhima menekankan pentingnya memperkuat bantalan fiskal guna menjaga kesehatan keuangan BUMN energi, terutama Pertamina dan PLN.
Ia menilai revisi APBN yang memiliki kepanjangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan beban subsidi energi apabila harga minyak dunia terus meningkat.
Realokasi anggaran, lanjutnya, sebaiknya dilakukan dengan menggeser pos belanja nonprioritas, bukan melalui penambahan utang baru, agar risiko fiskal tetap terkendali.
“Realokasi anggaran ke subsidi energi mendesak dilakukan. Diperkirakan butuh alokasi tambahan hingga Rp340 triliun untuk jaga agar defisit APBN tidak melebar. Sebaiknya realokasi jangan menambah utang baru,” katanya.
Adapun AS dan Israel melakukan serangkaian serangan terhadap target di dalam Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil.
Iran menanggapi dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan pembelaan diri.
Iran telah melancarkan gelombang serangan ke-sembilan terhadap Israel dan target-target Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, menurut pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Minggu (1/3).
”Gelombang kesembilan Operasi True Promise 4 telah dimulai terhadap target-target di seluruh wilayah pendudukan dan target-target AS di Timur Tengah,” kata IRGC, seperti dikutip stasiun televisi IRIB.
IRGC menyatakan angkatan udara Iran telah menghancurkan sistem pertahanan rudal THAAD dalam serangan di Al Dhannah, Uni Emirat Arab.
Imbas konflik ini, sekitar 200 kapal tanker terjebak di pintu masuk Selat Hormuz di Teluk Oman pada Selasa (3/3), menambah jumlah total kapal yang terjebak jadi 300 kendaraan, menurut data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti.
Saat ini tidak ada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis pantai utara Selat Hormuz merupakan milik Iran, sedangkan kepemilikan pantai selatan dibagi antara Uni Emirat Arab dan Oman.
Konflik yang kian memanas di Kawasan Timur Tengah menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menjadi rute utama untuk pasokan minyak dan LNG dunia dari negara-negara Teluk.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain












