Jakarta, Aktual.co — Pada tahun 1991,menginjakan kaki, ke Cape Town. Perempuan pemilik nama lengkap Nozibele Phylis Mali merubah nasibnya, untuk mencari pekerjaan. Hingga akhirnya, sebuah rumah yang dihuni Mehrunisa Dawood seorang keluarga muslim pun menampung dirinya.
Saat dirinya menetap dirumah salah satu keluarga muslim yang ditempatinya itu. Secara tak sengaja Mali mendengar lantunan ayat Alquran yang dibaca lantang dan merdu oleh Safeeq, putera Mehrunisa. Spontan Mali tertarik untuk mendengarnya. Walaupun, dirinya sama sekali tidak pernah memahami arti bacaan al-qur’an yang dibacaka Safeeg. Akan tepai, Mali mengakuinya kalau lantunan bacaan al-quran itu justru terdengan sungguh indah.
Mirisnya, selama lima tahun menetap bersama keluarga muslim, dia (Mali) tidak tahu apa itu Islam, apalagi Alquran. Namun yang pasti, setiap melihat Safeeq duduk dan membaca Alquran, hati Mali tergetar. Merasakan sesuatu kekuatan di hatinya yang meyakinkannya tentang kebenaran.
“Sesuatu itu datang dan menghampiri hati saya,” kenangnya seperti dikutip laman Onislam, Sabtu, 23 Mei 2015.
Seringkali mendengar lantunan Al-qur’an, perlahan hati Mali pun tersentuh. Sikap Mehrunisa yang lembut dan selalu tersenyum kepadanya membuat Mali mengagumi keluarga Muslim tersebut.
“Perempuan itu, setiap pagi waktu saya datang, wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman,” katanya.
Bahkan ketika dia membuat kesalahan saat bekerja, majikan perempuannya itu tetap sabar dan bersikap baik kepadanya. Mali merasa ada persaudaraan yang melampaui batas ras, kelas sosial dan majikan-pembantu. Mali merasakan hubungan yang lebih hangat dan ini membuatnya bahagia bahkan sampai terharu.
Belum lagi, kekaguman Mali dengan Mehrunisa adalah ketaatannya menjalankan ibadah salat. Mali sering memperhatikan Mehrunisa mengambil air wudlu dan salat mengenakan baju panjang dan hijab. Sehingga hal ini membuat penasaran Mali makin memuncak. Ingin rasanya menyelami segala sesuatu yang terjadi di rumah itu. Dia tidak tahu tentang wudlu, salat, Alquran. Hatinya mendesaknya untuk bertanya, namun yang dirasakan hatinya adalah takut pada awalnya.
Spontan, gelagat Mali akhirnya ditangkap Mehrunisa. Sang majikan rupanya tahu tentang kegelisahan Mali. Dia tahu pegawainya ini sedang membutuhkan bimbingan spiritual.
Mehrunisa kemudian mengajak Mali berdiskusi soal agama selepas makan siang. Namun pembicaraan itu tak membuat Mali puas. Mehrunisa menasihati Mali untuk berdoa.
“Ketika kamu keluar dari pintu, berdoalah dengan membaca ‘O Tuhan, tolong saya. Tunjukkan saya kebenaran’. Bacalah itu sampai kamu tiba di rumah. Tuhan pasti menunjukkan jalan bagimu,” kata Mehrunisa kepada Mali.
Beberapa bulan kemudian, Mehrunisa mengajak Mali ke kantor Gerakan Dakwah Islam (IDM) di Cape Town. Di sana, seorang imam berbicara dengan Mali mengenai agama Islam dalam bahasa Xhosa, bahasa asli orang Afrika Selatan.
Begitu mendapat penjelasan agama Islam dalam bahasa yang dia mengerti dengan baik, tanpa menunda-nunda waktu lagi, Mali memutuskan untuk memeluk Islam dengan mengucapkan kalimat dua syahadat.
Malahan sejak tahun 2005, Mali memilih nama Fatima sebagai nama Muslimnya. Setelah masuk Islam, Fatima Mali merasakan perubahan dalam kehidupannya. Dia yang biasanya egois, kini menjadi lebih peka pada orang lain yang memerlukan.
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby

















