Gaza, aktual.com – Seorang bayi berusia 27 hari meninggal akibat cuaca dingin ekstrem yang melanda Kota Khan Younis di Jalur Gaza Selatan pada Sabtu (17/1/2026).
Menurut berbagai sumber medis, bayi pemilik nama Aisha Ayesh al-Agha itu meninggal di Kota Khan Younis akibat cuaca dingin yang parah.
Kematian al-Agha menambah jumlah anak yang meninggal di Jalur Gaza akibat cuaca dingin ekstrem sejak awal musim menjadi delapan orang.
Kematiannya terjadi di tengah krisis bantuan kemanusiaan yang parah dan minimnya pasokan pemanas.
Sejumlah sumber memperingatkan insiden tersebut menyoroti parahnya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza, terutama bagi anak-anak dan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda rawan yang tidak mampu menahan cuaca dingin.
Penduduk di Jalur Gaza kekurangan tempat tinggal dan perawatan medis. Mereka juga kekurangan pasokan pemanas akibat kelangkaan bahan bakar di tengah kondisi cuaca yang buruk, badai, dingin dan disertai hujan.
PBB Desak Percepatan Rekonstruksi dan Upaya Pemulihan Awal
Sementara itu, Pejabat senior PBB pada Kamis (15/1) mendesak percepatan rekonstruksi dan upaya pemulihan awal di Jalur Gaza, memperingatkan bahwa warga Palestina menghadapi kondisi hidup “tak manusiawi” meski berlaku gencatan senjata yang didukung AS.
Usai melakukan kunjungan ke Gaza, Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS), Jorge Moreira da Silva, mengatakan skala kehancuran di wilayah tersebut jauh melampaui ekspektasi.
“Saya tidak pernah membayangkan apa yang saya lihat hari ini—kehancuran total, hampir tidak ada yang masih berdiri,” kata da Silva kepada wartawan, sambil menekankan urgensi tindakan segera.
“Kita tidak bisa menunggu, kita tidak bisa menunda,” katanya menegaskan.
Da Silva mengungkapkan bahwa warga Palestina di seluruh Gaza hidup dalam situasi tidak manusiawi lantaran seluruh lingkungan, rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur penting lainnya rusak parah atau hancur, sehingga memaksa ratusan ribu orang untuk mencari perlindungan dalam kondisi darurat.
Menurut dia, gencatan senjata tahap kedua di Gaza merupakan kesempatan “bersejarah” yang harus dimanfaatkan untuk memulai proses rekonstruksi.
Da Silva mengutip penilaian bersama Bank Dunia, PBB, dan Komisi Eropa yang memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 52 miliar dolar AS (sekitar Rp879 triliun). Namun, ia menekankan bahwa pemulihan awal tidak dapat ditunda.
“Kita tidak bisa menunggu rekonstruksi besar-besaran yang membutuhkan miliaran dolar, untuk segera memulai pemulihan awal yang hanya membutuhkan jutaan dolar,” katanya.
Da Silva mengatakan perang telah meninggalkan sekitar 60 juta ton puing yang terserak di seluruh Jalur Gaza.
“Gaza dibanjiri puing-puing dan reruntuhan,” katanya, sambil mencatat bahwa di puing-puing tersebut terdapat amunisi yang belum meledak, limbah berbahaya serta kerangka manusia yang menimbulkan risiko serius bagi warga sipil dan upaya pemulihan.
Da Silva juga mengidentifikasi akses bahan bakar sebagai salah satu kebutuhan paling mendesak, mengingat Gaza sangat bergantung pada generator berbahan bakar.
Prioritas lainnya meliputi pembersihan ranjau, pemulihan jaringan air, pencabutan pembatasan masuk bantuan, serta akses bagi suku cadang dan peralatan yang dibutuhkan untuk perbaikan.
Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa pembatasan yang diberlakukan Israel telah menghambat masuknya peralatan dan pasokan penting, sehingga mempersulit operasi bantuan dan pemulihan, sementara warga Gaza masih menghadapi krisis kemanusiaan yang berat.
Sebelumnya pada Rabu (14/1), utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengumumkan dimulainya gencatan senjata tahap kedua, mengatakan bahwa itu bertujuan untuk membuka jalan bagi rekonstruksi dan demiliterisasi faksi-faksi di Gaza.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi















