Jakarta, Aktual.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan situasi kebencanaan di wilayah Kalimantan seiring meningkatnya potensi cuaca ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, dalam periode pemantauan 9–10 Februari 2026, tercatat kejadian angin kencang di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, pada Minggu (8/2). Peristiwa tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu unit rumah roboh.
“Korban telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga. Situasi di lokasi kejadian dilaporkan telah terkendali,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Selasa (11/2/2026).
Selain cuaca ekstrem, ancaman karhutla masih berlangsung dan menunjukkan peningkatan. Di Provinsi Kalimantan Barat, BNPB mencatat luas lahan terbakar mencapai sekitar 306,404 hektare sejak awal Januari hingga 9 Februari 2026, dengan penambahan terbaru sekitar 64,904 hektare. Sejumlah daerah, yakni Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Sambas, dan Mempawah, telah menetapkan status Siaga Darurat.
Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar tercatat sekitar 228,46 hektare dengan penambahan sekitar 9,32 hektare berdasarkan data sementara. Kondisi tersebut menunjukkan karhutla masih menjadi ancaman meskipun sebagian wilayah tengah mengalami hujan.
BNPB juga memutakhirkan data banjir di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Bencana tersebut berdampak pada sekitar 1.890 kepala keluarga atau 4.980 jiwa, serta 1.353 unit rumah. Saat ini, banjir dilaporkan berangsur surut dan wilayah tersebut masih berada dalam masa Transisi Darurat hingga pertengahan Februari 2026.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, termasuk angin kencang, hujan lebat, dan banjir. Di sisi lain, upaya pencegahan karhutla diminta terus diperkuat melalui pengendalian sumber api, larangan pembakaran lahan, serta peningkatan patroli di wilayah rawan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi













