Jakarta, aktual.com – Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), Tarique Rahman, resmi terpilih untuk memimpin Bangladesh setelah partainya memenangkan pemilu parlemen yang berlangsung damai di bawah pemerintahan sementara yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.
Dalam pernyataannya seperti dikutip Associated Press (AP), Sabtu (14/2/2026), Tarique menyatakan komitmennya untuk membangun Bangladesh yang lebih demokratis, sekaligus memperkuat institusi negara yang dinilai melemah dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami akan memulai perjalanan dalam situasi yang ditandai oleh ekonomi yang rapuh akibat warisan rezim otoriter, melemahnya institusi konstitusional dan kelembagaan, serta memburuknya situasi hukum dan ketertiban,” ujar Tarique kepada wartawan.
BNP yang dipimpin Tarique berhasil meraih mayoritas kursi di parlemen yang beranggotakan 350 orang dalam pemilu yang digelar Kamis (13/2/2026). Sementara itu, aliansi beranggotakan 11 partai yang dipimpin Jamaat-e-Islami, partai Islam terbesar di negara tersebut, diperkirakan akan menjadi kekuatan oposisi utama.
Pemilu ini menjadi yang pertama sejak tergulingnya mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina pada 2024 menyusul gelombang kerusuhan massal. Sejak saat itu, pemerintahan sementara dipimpin oleh Muhammad Yunus hingga pelaksanaan pemilu terbaru.
Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Tarique dijadwalkan akan dilantik dalam beberapa hari mendatang. Dalam konferensi pers di ibu kota Dhaka, ia menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya adalah memperbaiki stabilitas keamanan, memulihkan ketertiban, serta memperkuat kondisi ekonomi nasional yang rapuh.
Tarique bukan sosok baru dalam dunia politik Bangladesh. Ia merupakan putra mendiang mantan Presiden Ziaur Rahman dan mantan Perdana Menteri Khaleda Zia, yang wafat pada Desember 2025. Keluarga Zia dikenal sebagai salah satu dinasti politik berpengaruh di Bangladesh.
Ziaur Rahman sendiri merupakan tokoh militer yang memainkan peran penting dalam kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan dan menjabat sebagai Presiden pada periode 1977–1981. Ia juga pendiri BNP, yang kemudian dilanjutkan kepemimpinannya oleh Khaleda Zia setelah kematiannya pada 1981 akibat percobaan kudeta militer.
Khaleda Zia kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri selama dua periode, yakni 1991–1996 dan 2001–2006, serta berperan dalam mengembalikan sistem demokrasi parlementer di Bangladesh setelah periode pemerintahan militer.
Naiknya Tarique ke tampuk kepemimpinan menandai berlanjutnya pengaruh dinasti politik keluarga Zia, yang selama ini menjadi rival utama Liga Awami yang dipimpin Sheikh Hasina, putri presiden pertama Bangladesh, Sheikh Mujibur Rahman.
Selama bertahun-tahun, Tarique memimpin aktivitas politik BNP dari pengasingan di London, Inggris, setelah meninggalkan Bangladesh pada 2008 menyusul kasus hukum yang menjeratnya. Ia kembali ke tanah air pada Desember 2025 untuk mengikuti proses pemilu yang digelar pemerintahan sementara.
Kemenangan Tarique menandai babak baru dalam dinamika politik Bangladesh, sekaligus membuka harapan akan stabilitas politik dan pemulihan ekonomi di negara Asia Selatan tersebut setelah periode ketidakpastian yang panjang.

















