Jakarta, aktual.com – “Sejarah acapkali ditulis oleh pemenang. Tapi puisi esai justru merekam sejarah dari mereka yang kalah dan menjadi korban.”
Pernyataan itu disampaikan Denny JA saat delapan buku puisi esainya kembali dipublikasikan untuk memperkenalkan kepada publik perjalanan panjang sejarah Indonesia dan dunia melalui karya sastra.
Menurut Penerbit CBI selaku sumber rilis, delapan buku tersebut tidak sekadar menjadi kumpulan puisi. Seluruhnya membentuk satu rangkaian karya sastra yang merekam luka sejarah, pengalaman manusia, serta perjalanan batin masyarakat dalam menghadapi konflik sosial, diskriminasi, tragedi politik hingga bencana ekologis.
Melalui puisi esai, sejarah yang sering tampil sebagai angka dan kronologi dalam buku pelajaran dihadirkan kembali sebagai kisah manusia yang hidup dan terasa dekat.
Dalam salah satu kisah puisi esai, diceritakan seorang perempuan bernama Lina yang setiap hari Kamis datang ke sebuah stasiun kereta. Ia mengenakan selendang kuning yang sama dari tahun ke tahun.
Orang-orang yang lewat mengira ia hanya menunggu seseorang yang terlambat datang. Namun yang sebenarnya ia tunggu adalah sejarah yang belum selesai.
Suaminya pergi ke Jakarta pada Mei 1998, ketika Indonesia dilanda kerusuhan dan kekacauan. Ia berjanji akan kembali pada hari Kamis.
Namun Kamis berlalu.
Lalu Kamis berikutnya.
Seratus Kamis berlalu.
Empat ratus Kamis berlalu.
Ia tetap datang.
Kisah tersebut terinspirasi dari aksi diam keluarga korban penghilangan paksa yang dikenal sebagai Aksi Kamisan. Setiap Kamis, para keluarga korban berdiri di depan Istana Negara dengan payung hitam sebagai simbol tuntutan keadilan.
Dalam puisi esai, tragedi nasional tidak lagi hadir sebagai statistik dingin dalam buku sejarah. Ia menjelma menjadi penantian seorang perempuan, menjadi doa yang tak selesai, menjadi luka yang menolak sembuh.
Di situlah puisi esai bekerja: mengubah sejarah menjadi suara manusia.
Puisi esai merupakan bentuk sastra yang memadukan bahasa puitis dengan refleksi esai. Genre ini diperkenalkan oleh Denny JA pada tahun 2012 melalui buku Atas Nama Cinta.
Sejak saat itu, puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra lintas negara. Hingga 2026, Festival Puisi Esai ASEAN telah diselenggarakan lima kali dan melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.
Ciri utama puisi esai adalah pertemuan antara fakta sejarah dan kisah manusia. Setiap cerita berpijak pada peristiwa nyata seperti konflik sosial, tragedi kemanusiaan, diskriminasi, hingga luka sejarah yang sering terlupakan.
Keunikan lain genre ini adalah penggunaan catatan kaki yang menjelaskan fakta sejarah di balik cerita. Dengan cara ini, pembaca tidak hanya tersentuh secara emosional tetapi juga memperoleh pemahaman historis.
Pada 2025, inovasi sastra ini memperoleh pengakuan internasional ketika Denny JA menerima BRICS Literary Award atas kontribusinya memperkenalkan bentuk sastra yang memadukan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Puisi pada umumnya lahir dari ruang imajinasi yang bebas, dibangun oleh metafora dan simbol.
Puisi esai mengambil jalan berbeda. Ia tetap menggunakan bahasa puitis, tetapi kisah yang disampaikan berakar pada realitas sejarah: ada tokoh nyata, konflik sosial, latar peristiwa, serta catatan kaki yang menjelaskan konteksnya.
Jika puisi biasa dapat disamakan dengan lukisan abstrak, puisi esai lebih menyerupai film dokumenter yang dituturkan dengan bahasa puitis.
Di sinilah kekuatannya: menjembatani dunia emosi dan dunia pengetahuan.
Statistik berubah menjadi tangisan.
Data berubah menjadi kisah manusia.
Menurut Penerbit CBI, delapan buku ini membentuk semacam peta sejarah yang luas, dari diskriminasi sosial di Indonesia hingga tragedi besar dalam sejarah dunia.
Atas Nama Cinta (2012), Mengangkat kisah cinta yang hancur oleh diskriminasi ras, agama, dan norma sosial. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018), Terinspirasi dari Aksi Kamisan yang memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM berat. Jeritan Setelah Kebebasan (2015), Merekam konflik etnis dan agama pasca-Reformasi di berbagai daerah Indonesia. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024), Mengangkat kisah romusha, jugun ianfu, nyai, dan korban kolonialisme yang jarang tercatat dalam sejarah resmi. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024), Menghadirkan tokoh awal pergerakan nasional seperti Raden Ajeng Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, dan Sukarno sebagai manusia yang bergulat dengan gagasan kemerdekaan. Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024), Berkisah tentang para eksil Indonesia setelah tragedi 1965 yang hidup puluhan tahun di luar negeri. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025), Mengangkat tragedi global seperti Holocaust, Atomic bombing of Hiroshima, French Revolution, dan Vietnam War dan Atas Nama Bencana (2026), Merekam tragedi ekologis di Sumatra melalui perpaduan puisi esai dan lukisan.
Tradisi sastra dunia juga mengenal karya-karya yang menjadikan penderitaan manusia sebagai pusat cerita.
Misalnya Les Misérables karya Victor Hugo yang menggambarkan kemiskinan dan ketidakadilan di Prancis.
Kemudian The Gulag Archipelago karya Aleksandr Solzhenitsyn yang mengungkap tragedi kamp kerja paksa di Uni Soviet.
Serta Night karya Elie Wiesel yang menjadi kesaksian tentang Holocaust.
Puisi esai berdiri dalam tradisi moral yang sama, tetapi dengan bentuk yang berbeda: memadukan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Delapan buku puisi esai ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya milik para pemenang.
Ia juga milik mereka yang hilang.
Mereka yang terluka.
Mereka yang dilupakan.
Melalui puisi esai, angka berubah menjadi manusia. Peristiwa berubah menjadi pengalaman. Sejarah berubah menjadi suara.
Dan dari suara-suara itu muncul satu pelajaran penting: sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk mengingat lukanya sendiri.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















