Jakarta, aktual,com – Pemerintah Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Umar Hadi, mengecam keras insiden penyerangan di Lebanon yang menewaskan tiga prajurit TNI. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang Darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai situasi di Lebanon, Selasa (31/3/2026).
Umar menegaskan tuntutan agar PBB melakukan penyelidikan langsung atas peristiwa tersebut dan tidak sekadar menerima penjelasan dari pihak lain. “Biar saya perjelas, kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel,” ujar Umar dalam sidang.
Menurut Umar, eskalasi kekerasan berakar dari serangan militer Israel yang berulang kali melanggar kedaulatan Lebanon dan menargetkan wilayah-wilayah di sana. Dia menyebut serangan itu sebagai ancaman langsung terhadap perdamaian dunia dan berpotensi merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Keprihatinan bertambah karena korban termasuk personel pemelihara perdamaian Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Tiga tuntutan utama Dalam sidang, Wakil Tetap RI menyampaikan tiga tuntutan utama kepada PBB terkait gugurnya prajurit TNI:
- Percepatan pemulangan jenazah tiga personel secara aman dan bermartabat.
- Pemberian perawatan medis terbaik bagi lima prajurit yang terluka.
- Jaminan dari semua pihak yang terlibat, termasuk Israel, untuk mematuhi hukum internasional dan menghentikan tindakan agresif yang membahayakan personel serta aset PBB.
Umar juga mendesak Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal PBB untuk segera menerapkan langkah darurat guna memastikan perlindungan penuh bagi personel UNIFIL, termasuk peninjauan protokol keamanan dan rencana evakuasi bila situasi memburuk.
Kronologi singkat Total tiga prajurit dinyatakan gugur dalam eskalasi konflik bersenjata di Lebanon pada 29–30 Maret 2026. Rinciannya:
- Praka Farizal Rhomadhon gugur pada Minggu (29/3/2026) saat bertugas di Lebanon Selatan. Insiden terjadi akibat tembakan artileri tidak langsung di sekitar posisi kontingen Indonesia dekat Adchit Al Qusayr.
- Pada Senin (30/3/2026), dua prajurit lainnya—Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan—gugur setelah sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL.
Tindak lanjut pemerintah Pemerintah Indonesia menyatakan akan terus mendorong mekanisme internasional untuk mengusut tuntas kejadian ini dan menuntut akuntabilitas guna mencegah terulangnya serangan terhadap personel perdamaian. Kementerian Luar Negeri dan TNI saat ini masih melakukan koordinasi terkait proses pemulangan jenazah serta penanganan korban luka.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















