Surabaya, Aktual.com – Anggota Polsek Wonokromo, Surabaya berhasil menggagalkan pengiriman 1000 ketapel melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Kabag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Lyli Djafar menjelaskan, meski ketapel bukan temasuk golongan senjata tajam yang tertera dalam Undang-undang, namun polisi tetap menyita barang tersebut. Sebab, selain rawan, fungsi dari 1000 ketapel tersebut juga tak jelas untuk dibuat apa.

“Ketapel sekian banyak ini dipesan mendadak. Keperluannya buat apa? Apalagi pesanannya mendadak. Jadi tetap kita sita untuk pencegahan saja. Kita kuatir untuk digunakan yang tidak-tidak,” ujar Kabaghumas Polrestabes Surabaya Kompol Lyli Djafar, Selasa (29/11).

Kompol Lyli mengatakan, ketapel tersebut disita di Pelabuhan Tanjung Perak pada 28 November malam saat berada di dermaga pelabuhan. Penyidik, lanjutnya, enggan mengaitkan pemesanan 1000 ketapel tersebut dengan rencana aksi 2 Desember.

Sebab, dari keterangan pemesan, ketapel tersebut akan dikirim ke Makassar untuk dijual lagi. Sementara dikonfirmasi terpisah, sumber internal di Pelabuhan Pelabuhan Tanjung Perak mengatakan, bahwa pada tanggal 28 November malam, tidak ada jadwal keberangkatan kapal dari Surabaya tujuan Makassar.

Namun, ada kedatangan kapal Pelni dari Makassar yang justru tiba di Surabaya dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sementara pemesan ketapel, Citra juga mengaku tak tahu untuk apa ketapel tersebut. Sebab, Citra hanya diperintah oleh sepupunya yang ada di Maros, Makassar.

“Saya cuma disuruh sepupu saya yang ada di Makassar untuk pesan 1000 ketapel dan harus dikirim ke Makassar. Nggak tahu buat apa, tapi katanya dijual lagi,” kata Citra saat di Polrestabes Surabaya.

Ditempat yang sama, Darman, si pembuat ketapel juga membenarkan jika barang tersebut dipesan dengan waktu tiga hari harus selesai. “Kalau soal buat apa, saya nggak tahu. Saya hanya terima pesanan dan membuatnya. Sebiji harganya 5.500 rupiah,” kata Darman.

Diakuinya, membuat seribu ketapel dalam waktu tiga hari sangatlah sulit jika tidak dipaksakan. Sebab, sehari biasanya Darman dan rekan-rekannya mampu membuat ketapel sekitar 100 biji.

Laporan: Ahmad H Budiawan

(Wisnu)