Pekerjaan itu harus ia lakukan karena butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya punya istri dan tiga anak yang harus saya hidupi,” kata dia.
Sementara kebun kakao dan sedikit areal persawahaan saat ini belum menghasilkan karena belum tiba musim panen.
“Dari pada nganggur di rumah, lebih baik mencari pekerjaan di kota dan sudah berjalan dua pekan terakhir ini menjadi buruh bangunan di Kota Palu,” kata dia.
Palolo merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sigi yang selama ini merupakan sentra produksi kakao, kopi dan beras.
Wilayah itu berjarap sekitar 60an kilometer dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng.
ant
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby
















