Banda Aceh, Aktual.co — Demonstrasi yang dilakukan puluhan mahasiswa dan masyarakat eks Blang Lancang, Lhokseumawe, Rabu (15/10) di depan PT Arun NGL Lhokseumawe, Aceh berlangsung ricuh.

Amatan Aktual.co, puluhan mahasiswa dan masyarakat itu membawa poster dan spanduk berisi tuntutan pada pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, Pertamina dan PT Arun NGL agar memenuhi janjinya untuk melakukan pembebasan lahan pada masyarakat yang tergusur ketika perusahaan pengolah gas itu dibangun tahun 1975 silam.

Awalnya aksi berlangsung damai. Demonstran hanya membakar ban bekas sekitar 100 meter dari gerbang PT Arun. Namun, belakangan aksi saling dorong terjadi antar demonstran dan puluhan polisi yang menjaga ketat demo tersebut. Bahkan, puluhan demonstran berhasil menerobos barikade polisi dan memukul serta menendang pintu gerbang PT Arun. Beruntung, pintung gerbang itu telah ditutup rapat.

Koordinator aksi, Putri Juanda menyebutkan sejak tahun 2009 mereka telah menuntut hak atas ganti rugi yang belum dibayar oleh negara untuk 542 kepala keluarga di pabrik itu. Belakangan disepakati bahwa pemerintah akan melakukan pembebasan lahan seluas 121,9 hektare untuk warga tergusur itu di Desa Ujong Pacu, Lhokseumawe. Namun, sampai sekarang janji itu belum terealisasi.

“Kami minta pemerintah, Pertamina harus menepati janjinya. Jika tidak dipenuhi tuntutan kami hari ini, maka kami akan menduduki PT Arun,” terang Putri.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Arun, Gusti Aziz menyebutkan persoalan itu telah dibahas oleh PT Pertamina dan pemerintah pusat. “Yang saya tahu persoalan itu masih dalam pembahasan. Jadi, sedang dibahas bagaimana mekanismenya dan lain sebagainya. Itu yang dapat saya jelaskan,” pungkasnya. Sampai berita ini dikirimkan aksi masih berlangsung dan belum ada satu pun perwakilan dari manajemen PT Arun menemui para demonstran.

()