Jakarta, Aktual.com — Mengawali pekan ini, kurs rupiah berdasar data bloomberg pada perdagangan Senin (22/2) dibuka pada posisi Rp13.479/USD atau menguat 29 poin dari penutupan sebelumnya.
Pada perdagangan pasar spot hari ini, laju mata uang rupiah terhadap dollar AS diperkirakan masih melanjutkan tren depresiasinya. Hal ini akibat maraknya sentimen negatif dari kondisi global maupun domestik.
Menurut analis PT NH Korindo Securities, Reza Priyambada dalam analisis hariannya, sentimen dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) memang sudah terlewati.
Akan tetapi, sentimen itu mulai tergantikan dengan sentimen pasar terkait pembatasan net interest margin (NIM) perbankan maksimal 4 persen.
“Sehingga masih adanya sentimen negatif tersebut membuat laju rupiah meninggalkan teritori positifnya. Ini membuka peluang bagi rupiah untuk berada pada tren pelemahan,” tegasnya, pada Senin (22/2).
Padahal sebelumnya, pihaknya menyampaikan bahwa laju Rupiah diharapkan menguat terhadap dollar AS, seiring dengan RDG-BI yang memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga.
“Tapi sentimen pembatasan NIM masih ada, membuat para pelaku pasar akan cenderung menjauh dari pasar. Maka laju rupiah akan berada di level Rp13.566-Rp13.500,” paparnya.
Menurut dia, pada perdagangan sebelumnya laju rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antar-valas sempat melemah, sebelum berakhir stagnan. Euro, poundsterling, SwissFranc menguat, tapi yuan, dollar Australia dan dollar Kanada melemah.
“Pergerakan variatif dollar AS tersebut telah memberikan sentimen negatif terhadap laju rupiah, sehingga pola geraknya tidak banyak berubah dan tetap berada pada tren depresiasi,” kata dia.
Artikel ini ditulis oleh:

















