Jakarta, Aktual.co —Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menyindir para buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang rabu kemarin kembali menuntut kenaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 30 persen di Balaikota DKI.
Ahok menyindir dengan mengatakan tidak semua buruh yang demo berasal dari kalangan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dia menyoroti motor yang dipakai para buruh yang berunjukrasa.
“Buruh-buruh juga banyak yang keren motornya, lihat saja demo-demo itu kan keren,” ujar Ahok di Balaikota, Rabu (22/10) kemarin.
Dia pun curiga curiga kalau banyak dari pengunjukrasa bukan merupakan benar-benar buruh. Tetapi orang yang dibayar untuk berdemo sebagai buruh alias demo bayaran. 
“Ini buruh atau pekerja buruh yang digaji buruh untuk demo, gitu lho. Kita enggak tahu,” ujarnya.
Terkait permintaan para pengunjukrasa untuk menaikkan UMP hingga 30 persen, Ahok menilai tidak rasional. Karena kenaikan UMP harus didasarkan pada survei kebutuhan hidup layak (KHL) dan proyeksi inflasi. 
Ketimbang menaikan UMP, Ahok mengaku lebih memilih memberikan subsidi kepada buruh dalam bentuk lain, seperti subisidi pendidikan, transportasi dan kesehatan. Alasannya, untuk membatasi pola konsumtif buruh sekaligus mengontrol penggunaan upah.
“Kalau itu bisa kita atasi dengan KJS atau KJP. Nanti transportasi juga bisa kita kasih diskon. Kan kita akan berikan Public Service Obligation (PSO). Jadi bus-bus itu bisa saja gratis di jam-jam tertentu atau bayarnya murah, nanti yang bayarin pemerintah. Subsidi dalam bentuk transportasi massal, enggak ada lagi subsidi per orangan, enggak bisa dicairin tapi didebit. Kita pengen subsidi yang manfaat untuk orang banyak,” ujarnya.

()