Petugas mengunakan alat berat melakukan pembongkaran di kawasan Kampung Luar Batang, Jakarta, Senin (11/4/2016). Pemprov DKI Jakarta membongkar sebanyak 853 bangunan di kawasan tersebut dalam rangka revitalisasi kawasan wisata Sunda Kelapa, Museum Bahari, dan kawasan Luar Batang.

Jakarta, Aktual.com – Sensus ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan ketimpangan ekonomi antara si kaya dan miskin di tahun 2015 di Ibu Kota DKI Jakarta semakin melebar.

Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Syech Suhaimi menyampaikan pendapatan orang kaya di Jakarta naik terlalu cepat. Di sisi lain, masyarakat kelas menengah dan bawah malah cenderung melambat pendapatannya.

Padahal, jumlah orang kaya di Jakarta yang melonjak cepat itu hanya 20 persen dari total warga Jakarta. “Sementara itu, pendapatan masyarakat menengah dan bawah yang jumlahnya 80 persen melambat,” kata dia, saat lakukan sensus ekonomi di di rumah dinas Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat, Jakarta, Senin (2/5).

Kata dia, di 2015, BPS melansir angka ketimpangan ekonomi di Jakarta 0,46 persen. Naik dari tahun 2014 yang mencapai 0,43 persen. “Semakin dekat ke angka 1 semakin timpang,” ujar Suhaimi. Kata dia, adalah tugas Pemprov Jakarta untuk menekan kesenjangan ekonomi ini.

Sedangkan untuk sensus ekonomi 2016, BPS mulai tanggal 1 Mei 2016 sampai 31 Mei 2016. Dengan jumlah petugas yang diturunkan sebanyak 22.035 orang. Petugas akan mengumpulkan data perusahaan non-pertanian, baik yang berlokasi permanen dan tidak permanen. Juga usaha keliling dan usaha rumah tangga.

Artikel ini ditulis oleh: