Menurut dia, kekurangan para penari tari “Encek Grenjeng” dalam festival karya tari se-Jatim, di Surabaya, pekan lalu, antara lain, jadwal waktu latihan yang pendek, juga para penari masih belum matang.

“Sembilan penari “Encek Grenjeng” semuanya penari pemula, sebab untuk regenerasi,” ucap Koreografer Disbudpar Bojonegoro Deny Ike Kirmayanti menambahkan.

Upacara adat di Desa Straturejo itu, mengambarkan upacara adat sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan kepada sepasang leluhur desa setempat yaitu Akuwu Basunanda dan Nyi Lebdasari. Upacara adat itu kemudian diadopsi menjadi tari dengan judul “Encek Grenjeng”.

Di dalam upacara adat itu digambarkan ada iring-iringan “encek” (wadah) berisi sajian gunungan hasil bumi dan makanan simbul rasa syukur dan suka cita masyarakat yang sudah menjadi tradisi dilengkapi disajikan hiburan tayub.[ant]

 

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid