Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan wacana perubahan raskin menjadi e-money menjadi faktor kendala administratif penyaluran atau distribusi beras. Ia juga menyebutkan empat faktor yang sebabkan harga beras tidak stabil.
“Ada 9 triliun untuk raskin dan 2 triliun untuk cadangan beras pemerintah, semestinya pada saat itu tidak di gonjang-ganjing oleh e-money. Itukan bisa di jalankan sehingga begitu menginjak Januari hingga Februari Raskin sudah bisa disalurkan dan beras cadangan pemerintah itu sudah bisa segera disiapkan, jika terjadi fluktuasi harga yang di atas harga psikologis. Jadi secara administrasi semestinya jalan saja, hanya itukan persoalannya di Februari ada pembahasan APBN-P. Dengan wacana perubahan dari raskin jadi e-money saya kira ini membatasi ataupun jadi faktor kendala administratif,” ujar Herman di Jakarta, Sabtu (28/2).
Menurutnya, Pertama yang paling berpengaruh adalah produksi, jika kementerian pertanian kemudian memastikan bahwa produksi di atas 4 persen dpastikan harga beras ini akan stabil.
“Justru itu saya meminta kementrian pertanian segera melakukan rilis berapa angka ramalan yang akan dicapai dalam satu tahun 2015 ini atau progres per triwulan itu berapa hingga masyarakat diyakinkan produksi kita mencukupi,” katanya
Kedua, yang harus dipastikan adalah berapa konsumen yang sesungguhnya. Kata Herman, setiap tahun pasti ada perubahan konsumsi, jadi jangan menurunkan konsumsi per kapita 139 kg per kapita tahun diturunkan menjadi 125, tetapi kemudian realitasnya berada dibawah 139.
“Ini akan mengganggu perencanaan terhadap persoalan ketahanan pangan kita,” tuturnya
Ketiga, stok nasional bulog. Jika bulog memiliki kemampuan yang cukup untuk stok bulog minimal 3 juta.
“Angka 3 juta kan ekuavalen dengan persiapan satu tahun menyiapkan cadangan beras, saya kira nanti bagaimana manajemen inlet-outletlah supaya beras-beras ini tidak rusak. Kalau pemerintah memiliki kemampuan dalam setahun saya yakin betul bahwa harga beras ini tidak akan terdistorsi, atau celah untuk melakukan spekulasi pelaku beras pun tidak akan terjadi, karena pemerintah ada kesiapan untuk bisa melakukan operasi pasar maupun penyaluran raskin secara cepat,” katanya
Keempat, masalah distribusi. Karena negara Indonesia adalah negara kepulauan, di suatu daerah kelangkaan terjadi, beritanya akan memicu pelaku pasar lainnya sehingga distribusi. Menurutnya, juga harus direncanakan mana saja daerah-daerah sentra, mana daerah konsumen, ini harus dipetakan betul dan dijamin distribusinya.
“Kelima, diversifikasi, kalau beras ini terlalu berat untuk kita siapkan ya kita harus cari alternatif lain apakah akan dikembalkikan ke badan pangan lokal, ataukah diganti beras analog, ataukah di daerah tertentu kita kembalikan ke pangan-pangan tradisional mereka supaya beban beras ini tidak terlalu tinggi,” tambahnya
“Terakhir saya kira jangan terlalu banyak lontarkan isi sensitif terhadap komoditas yang sensitif yang akan mempengaruhi situasi ekonomi,” tutupnya
Artikel ini ditulis oleh:
Eka














