Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/8/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.

Jakarta, aktual.com – Hingga saat ini para pelaku seni dan budaya masih terbatas melakukan kreatifitas kegiatannya, karena pandemi belum usai. Sehingga berbagai kalangan ada yang mengkhawatirkan ekspresi para pelaku seni dan budaya bisa tersendat. Dampaknya akan terjadi lost culture.

Ternyata bantuan tunai dari pemerintah bagi pelaku seni belum dinilai cukup bagi pelaku seni dan budaya. Karena yang mereka harapkan ekpresi dan kreatifitas dapat di lakukan. Rasa khawatiran karena ekpresu tersendat, mengakibatkan lost culture.

Untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi harus mempunyai terobosoan yang berdampak bagi pelaku seni dan budaya. Cara itu agar para pelaku seni dan budaya tetap berkarya, dan ekpresi mereka bisa tersalurkan.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Politisi Partai Golkar ini juga memberikan masukan untuk para pelaku seni dan budaya ditengah pandemi covid-19. ” Pelaku seni perlu mempunyai kemampuan yang adaptif supaya bisa tetap memanfaatkan kreatifitas ditengah keterbatasan saat ini,” jelasnya saat ditemui di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta.

Hetifah menyebut seniman dan budayawan bisa menggunakan alternatif dengan memanfaatkan teknologi ditengah makin berkembanngnya dunia digital untuk bisa terus berkarya baik tingkat lokal, nasional hingga internasional.

“Saya rasa, dunia digital justru memberikan ruang tanpa batas bagi kreativitas para seniman dan budayawan Indonesia,” kata Hetifah (14/09/2021).

Hetifah menuturkan DPR hingga pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dan Kemenparekraf akan terus memberikan perhatian penuh terhadap para pelaku budaya dan seni di berbagai aspek.

Contohnya, dengan memberikan pendukungan proyek destinasi super prioritas dalam hal seni dan budaya dan bermitra dengan Kementerian terkait. Selain itu pemerintah juga beri dukungan seperti menjadikan museuum, galeri, pusat seni dan lainnya sebagai media untuk berkreasi.

Dalam kondisi saat ini, Hetifah menyebut mitra Komisi X DPR RI yakni Kemendikbud tetap melaksanakan kegiatan rutin yang mendukung sektor seni dan budaya dengan menghadirkan beberapa kegiatan terkait.

“Diantaranya Pekan Kebudayaan Nasional, Indonesia bercerita, Kanal Indonesiana, Musik Magi dan Musik Lapo (pengembangan music tradisi), Piala Citra dan Indonesiana Films (festival film), World Music Expo, serta ragam talkshow dan webinar konten nusantara,” tuturnya.

Ia juga memastikan kalau DPR akan terus memberi ruang kepada para pelaku seni akan tetap dapat berkreasi dengan tiga aspek yaitu Pengawasan, Anggaran, dan Legislasi.

Seperti dalam aspek anggaran, Hetifah menyatakan DPR mendukung anggaran sebesar 1.2 Triliun tahun 2022 bagi Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek. Sebesar Rp. 235,1M dari anggaran tersebut ditujukan khusus untuk Kegiatan-kegiatan Pemajuan dan Pelestarian Kebudayaan.

“Dalam aspek pengawasan, kami terus melakukan berbagai Rapat Dengar Pendapat dengan berbagai pihak seni dan budaya di Indonesia. Mulai dari akademisi, praktisi, industry, swasta, dan lainnya. Kami juga aktif melakukan rapat evaluasi program dengan Kemdikbud untuk memastikan bahwa kebijakan telah tepat menyasar para pelaku seni dan budaya,” ujarnya.

Sementara untuk aspek legislasi, Hetifah memastikan bahwa Undang – undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dapat diterapkan dengan baik. Hal ini memastikan ketahanan dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia dapat terjaga melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Anggota DPR RI Dapil Kaltim tersebut menyambut baik dengan adanya program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), meski begitu program tersebut jangan hanya menyajikan hal yang biasa seperti pada umumnya perlu ada sesuatu yang beda dari sebelumnya.

Sesuatu yang baru tersebut dalam PKN itu seperti merangkum berbagai bentuk budaya Indonesia melalui ragam acara seperti kompetisi, konferensi, lokakarya, pasar budaya, serta parade mahakarya.

“Jadi, semua pelaku budaya dan masyarakat umum dapat berpartisipasi pada acara sesuai keahlian atau ketertarikannya. Misal, jika tertarik ranah akademis bisa menjadi pembicara di konferensi, jika ingin belajar atau praktik bisa ikut lokakarya, jika ingin membeli produk bisa ke pasarbudaya,” imbuhnya.

Hetifah menyebut pelaksanaan PKN tahun 2020 juga telah memanfaatkan teknologi digital dengan baik. Ada ragam video di youtube, seminar online, dan juga pasar lewat e commerce. Untuk itu pelaksanaan PKN ini harus terus dilanjutkan dan promosi terus ditingkatkan.

“Saya mendorong agar PKN terus dilanjutkan. Akan tetapi, tahun 2021 ini saya berharap agar promosi PKN ditingkatkan, kalau bisa dibuat gimmick agar viral. Dengan begitu, perhatian serta partisipasi masyarakat umum akan semakin maksimal,” pungkasnya.

(Tino Oktaviano)