Menkue, Sri Mulyani Indrawati
Menkue, Sri Mulyani Indrawati

Jakarta, aktual.com – Mukhamad Misbakhun anggota Komisi XI fraksi Partai Golkar DPR Ri mengingatkan Menteri Keuangan untuk tidak mengambil tawaran bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) ataupun Bank Dunia untuk penanggulangan Covid-19, jumat (27/3).

Mukhamad Misbakhun menuturkan hal ini Melaui pesan yang aktual diterima, yang isi pesan lengkapnya sebagai berikut:

Uangnya dari mana? Pemerintah masih mempunyai anggaran yang memadai dari Sisa Anggaran Tahun Lalu (SAL), akumulasi dari Sisa Anggaran Tahun Sebelumnya (SILPA) dan anggaran yang selama ini disishkan oleh pemerintah sebagai dana abadi (endowment fund) untuk keperluan cadangan seperti dana Pendidikan di LPDP, dana pungutan bea ekspor sawit (lavy) di BPDPKS, dana Lingkungan hidup di BPDLH, Dana Riset Perguruan Tinggi, yang diinvestasikan di Surat Utang Negara. Termasuk dana APBN yang ada BA99 yang selama ini dikelola oleh Menteri Keuangan Sebagai Bendahara Umum Negara.

Bahkan kalau perlu pemerintah bisa meminjam sebagian dana simpanan milik LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) yang mencapai lebih 150 triliun sebagai cadangan darurat oleh negara untuk keperluan mendadak karena uang tersebut tersedia dan sangat siap untuk dipinjam negara bila perlu karena posisi dana nya memang tidak sedang digunakan.

Ada cadangan devisa Indonesia yang dikelola oleh Bank Indonesia sekitar 130 billion USD atau setara dengan lebih 2.000 triliun rupiah bila kurs saat ini 16.800 rupiah per US dollar.
Pemerintah cukup dengan menerbitkan open end Surat Utang Negara (SUN) yang khusus dibeli oleh Bank Sentral dan meminta Bank Indonesia membeli SUN tersebut dengan bunga dibawah 5% saja. Kalau pemerintah menerbitkan SUN senilai 20 billion USD akan setara dengan 336 triliun rupiah. Uang sebesar itu akan sangat cukup dan memadai untuk menanggulangi Covid19 di Indonesia tanpa harus menggunakan pinjaman dana IMF dan World Bank.

Keuntungannya adalah;
1. Sebagai negara, Indonesia pada tahap tidak bergantung IMF dan World Bank dan ini menjadi kunci kemandirian kita.
2. Tidak terjebak pada bantuan IMF dan World Bank yang sering mengikat pada kebijakan dan policy ekonomi dan politik Indonesia di masa depan.
3. Bank Indonesia tidak sepenuhnya menggunakan cadangan devisa untuk operasi moneter menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saja seperti saat ini. Sehingga operasi moneternya lebih terimbang untuk yang lain lebih urgent.

Kebijakan seperti ini harus diambil karena kalau kita menerbitkan global bond disaat pasar global sedang terimbas Covid19 maka imbal balik atau rate return SUN yang diterbitkan oleh Indonesia akan sangat mahal biayanya karena ini adalah kesempatan bagi fund manager asing untuk memeras institusi negara yang sedang membutuhkan uang disaat mereka butuh likuiditas dalam jangka pendek mengatasi kebutuhan belanja negara yang mendesak.

Salam hormat;

Mukhamad Misbakhun

(Eko Priyanto)