Gedung Dewan Pers Jakarta

Jakarta, Aktual.com – Dalam beberapa hari terakhir, beredar puluhan nama media massa terverifikasi Dewan Pers baik cetak maupun siber (online) di sejumlah pesan elektronik. Nama-nama media tersebut rencananya akan diumumkan pada puncak perayaan Hari Pers Nasional di Ambon pada 9 Februari mendatang.

Beredarnya nama-nama media terverifikasi ini menimbulkan polemik di kalangan pers itu sendiri. Pasalnya, banyak media yang belum terverifikasi meskipun sebelumnya telah terdaftar di Dewan Pers. Termasuk media-media mainstream yang sudah mempunyai nama.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais khawatir media yang tak terverifikasi tersebut bisa digeneralisasikan sebagai media abal-abal atau ‘hoax’.

“Dewan Pers kan sudah lakukan verifikasi media yang dianggap benar, melalui barcoding itu. Yang kita khawatirkan adalah nanti kemudian media yang dianggap tidak memenuhi syarat dewan pers dianggap salah,” ujar Hanafi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/1).

Bahwa setiap media harus memiliki kontrol, politisi PAN itu menyetujuinya. Sistem kontrol ini sekaligus mendorong agar media bersangkutan menjadi lebih baik. Selain itu perlu pula adanya sistem koreksi terhadap konten yang disiarkan.

“Jadi yang harus dilakukan dewan pers itu selain mendata perusahaan pers sesuai dengan tupoksi UU pers adalah juga mendorong supaya media manapun punya self correction mechanism. Jadi mekanisme self censorship kalau ada hate speech, kalau ada sara, kalau fitnah bisa langsung diatasi,” pungkasnya.

(Nailin Insa)

()