Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Wuryanto menilai adanya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite merupakan upaya pemerintah menaikkan harga BBM secara terselubung. Pertalite adalah pengganti premium, bukan varian baru seperti yang disebutkan Dirut Pertamina Dwi Sutjipto.
“Pertamina akan buat diversifikasi Pertalite. Nantinya akan dijadaikan pengganti premium, efeknya akan menjalar ke berbagai sektor. Masuknya pertalite berarti ada kenaikan BBM secara tidak disadari oleh masyarakat,” ujar Bambang di DPR, Jakarta, Senin (27/4).
Bambang menuturkan bahwa pertalite merupakan BBM dengan nilai oktan 90, sedangkan Premium memiliki angka oktan 88. Jadi antara premium dan Pertalite terpaut dua digit angka yang tidak terlalu jauh.
“Hanya naik dua digit (oktan) namun kemudian harga jualnya dari Rp7.600 sampai Rp8.200. Itu sama saja dengan menaikkan BBM,” katanya
Oleh karenanya, Bambang menghimbau agar pemerintah jangan tergesa-gesa untuk meluncurkan BBM jenis baru tersebut.
“Hati-hati jangan tergesa-gesa untuk menerapkan Pertalite. Bicara soal kebutuhan hari ini, premium bagi rakyat nggak ada masalah. Kalau diganti petralite, maka 5200 SPBU akan kacau. Efeknya juga ekonomi rakyat melambat,” pungkasnya.
Berdasarkan informasi yang didapat Aktual, BBM jenis Pertalite akan dibuat atau diblending pada fasilitas tanki PT TPPI di tuban. PT TPPI ini akan dijalankan dengan memproduksi nafta dan sedikit HOMC. Namun bahan baku terbesar HOMC merupakan bahan impor.
Belum lagi Pertalite merupakan jenis BBM yang belum pernah ada di dunia, lebih parah dari premium, pertalite tidak ada benchmark harganya. Sedangkan HOMC (high octane mogas component) memiliki oktan tinggi yang bila dicampur nafta yg oktan rendah jadi Pertalite dengan komposisi tertentu. Premium yang disuplai ke Indonesia, kadar octane-nya banyak yang sudah 90, harganya sama dengan premium.
“Jika Pertamina memakai skema Pertalite ini, untungnya bisa mencapai USD22 per barrel,” ujar sumber Aktual.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka














