Jakarta, Aktual.co —Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan mendukung penaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dia beranggapan kalau Pemerintah Pusat tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, maka nilai tukar rupiah akan terus melemah.
“Kalau nggak mau naikkan itu dollar bisa sampai Rp13 ribu – Rp14 ribu. Kita sudah defisit (neraca perdagangan dan anggaran), makanya ini harus dinaikkan,” ujar Ahok di Balaikota DKI, Rabu (5/11).
Lagipula dia menilai penggunaan BBM bersubsidi di Jakarta sering tidak tepat sasaran. Karena lebih banyak digunakan  kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum. 
Sebagai solusi untuk menyikapi kenaikkan BBM, mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku telah mempersiapkan beberapa hal. Seperti memaksimalkan transportasi umum dengan penambahan bus tingkat dan bus Transjakarta. 
Selain itu, Pemprov DKI juga akan memperluas pemberian Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai pelengkap dari Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang telah diterapkan di Jakarta.
“Yang penting kita siapin ini aja KIP dan KIS. Terus kita siapin bis tingkat sama Transjakarta yang ga begitu naik harganya. Itu yang penting, terus kami juga mesti kerja dengan baik menekan inflasi, terutama kebutuhan pokok,” ujarnya.
Sebagai informasi, isyarat mengenai kenaikan BBM bersubsidi telah diberikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Harga BBM bersubsidi akan dinaikkan setelah pendistribusian KIP dan KIS usai dilaksanakan.
“Ya semestinya begitu,” ujar Jusuf Kalla di Kementerian Dalam Negeri, Selasa (4/11) kemarin.
Ia juga merencanakan kenaikan harga BBM berubsidi akan dilakukan pada bulan November ini. “Pokoknya bulan inilah,” ujarnya.
Sebagai solusi, JK mengatakan akan mengalihkan subsidi BBM ke bidang kesejahteraan rakyat seperti KIP dan KIS. “Kenaikan BBM kan mengalihkan subsidi dari konsumtif ke produktif, salah satu pengalihannya ke kesejahteraan sosial masyarakat.” 

()