Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. AKTUAL/IST

Jakarta, Aktual.com – Dunia diramal resesi tahun depan oleh berbagai lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, Indonesia optimis bisa lolos dari jurang resesi karena ekonomi mulai pulih dan tekanan inflasi mulai melandai.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto berharap pemerintahan terus memaksimalkan tren positif pertumbuhan ekonomi domestik agar terhindar dari ancaman tersebut.

“Selama Indonesia bisa mengoptimalkan laju positif pemulihan ekonomi domestik sebenarnya risiko resesi tahun depan bisa dihindari,” ujar Eko, Senin (17/10/2022).

Menurut Eko, perlunya pengoptimalan ekonomi domestik untuk terhindar dari resesi disebabkan saat ini keterbukaan ekonomi Indonesia masih relatif rendah.

“Hal ini karena tingkat keterbukaan ekonomi Indonesia masih relatif rendah,” ucapnya.

Lanjut Eko, resesi pada tahun 2023 menurutnya berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2020 di mana semua negara hampir seluruhnya terdampak pandemi Covid 19.

“Hal ini juga beda dengan resesi 2020 lalu di mana hampir semua negara mengalami resesi karena kasus pandemi yang tidak terkendali waktu itu,” jelasnya.

Sementara saat ini, Eko menyampaikan Indonesia dinilai sudah lebih siap dalam menghadapi ancaman krisis sehingga diharapkan Indonesia bisa lolos dari resesi.

“Saat ini, tingkat kesiapan lebih baik. Namun demikian, dampak jangka pendek terhadap risiko arus modal keluar memang perlu diwaspadai agar tidak membuat rentan kurs Rupiah,” tuntas Eko.

Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia masih punya secercah harapan sekalipun ekonomi global diramal akan sangat gelap akibat perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung sengit.

“Sekalipun ekonomi global tidak menentu akibat Ukraina dan Rusia, yang pintu masuknya adalah pangan dan minyak, tapi kita mempunyai secercah harapan untuk Indonesia. Yang penting, leadership dan stabilitas nasional kita, kita harus jaga bersama-sama,” kata Bahlil Lahadalia

Bahlil menjelaskan, kondisi ekonomi global terus didera masalah sejak perang dagang antara AS dan China pada 2017 hingga awal 2019. Disusul kemudian dengan pandemi Covid-19 yang meski hingga kini belum juga reda sudah dihantam lagi dengan perang Rusia-Ukraina.

“Ini betul-betul meluluhlantakkan persoalan ekonomi global kita. Dalam bahasa saya, ini ekonomi gelap, ekonomi 2023 ini gelap,” katanya.

Di bidang investasi sendiri, Presiden Jokowi sendiri menargetkan realisasi investasi pada 2023 bisa mencapai Rp1.400 triliun di tengah gelapnya ekonomi global pada tahun 2023.

(Tino Oktaviano)