Jakarta, Aktual.co —  Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memperkirakan sentimen negatif akan timbul dari pasar finansial jika Presiden terpilih Joko Widodo baru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 2015, bukan pada sisa waktu Tahun Anggaran 2014.

Menurut Destry, pelaku pasar sudah telanjur berekspektasi agar Joko Widodo (Jokowi) segera menaikkan harga BBM bersubsidi setelah dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014.

Dengan begitu, pelaku pasar sangat berharap terjadinya pemulihan. fundamental perekonomian dengan luasnya ruang fiskal negara, ditambah perbaikan defisit neraca transaksi berjalan yang selama ini dibebani oleh impor minyak olahan.

“Market (pasar) akan kecewa. Ini yang membedakan skenario kenaikkan harga BBM pada November 2014 dengan kenaikan harga BBM pada Januari 2015,” ujarnya di Jakarta, ditulis Aktual, Kamis (16/10).

Besaran subsidi BBM dianggap telah menjadi beban fiskal negara dalam beberapa tahun terakhir. Pada APBN-P 2014, beban subsidi BBM hampir sebesar RP250 triliun.

Jika sentimen negatif terus membayangi pasar uang dan modal, kata Destry, bukan tidak mungkin pembalikan arus modal dari Indonesia, dan fluktuasi kurs rupiah akan semakin besar.

Pasalnya, dengan kondisi perekonomian global yang belum pulih sepenuhnya ditambah normalisasi kebijakan Bank Sentral AS, The Fed, ujar Destry, seharusnya pemerintah fokus memperbaiki fundamental perekonomian.

Dia juga mengatakan pelaku pasar pesimistis jika kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi pada 2015 akan dengan mudah diloloskan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), melihat kelemahan dukungan politik untuk Jokowi di parlemen.

Hal tersebut dikemukakan Destry berdasarkan analisis para ekonom Bank Mandiri terkait pandangan perekonomian pada 2015. Terdapat dua skenario kenaikan harga BBM bersubsidi yang menjadi kerangka acuan analisis.

Dijelaskan Destry, dampak terhadap inflasi dan neraca transaksi berjalan karena kenaikan harga BBM dengan dua waktu skenario yakni pada November 2014 dan Januari 2015 tidak akan jauh berbeda.

Dia menggarisbawahi, dampak inflasi dan tekanan pada daya beli masyarakat karena kenaikan harga BBM pada November 2014, hanya bersifat sementara, namun dampak positif terhadap perekonomian akan mulai terasa pada 2015.

Misalnya, laju inflasi dan defisit neraca transaksi berjalan pada 2015 akan lebih terkendali, akibat kenaikan harga BBM pada 2014.

Perinciannya, jika harga BBM dinaikkan dengan besaran Rp3.000 pada November 2014, pemerintah dapat menghemat total pengeluaran sebesar RP141 triliun secara akumulasi tahunan.

Memang, katanya, inflasi tahunan pada 2014 akan melonjak menjadi 8,47 persen, dan pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi dari 5,3 persen menjadi 5,23 persen.

“Namun dengan sudah dinaikkannya BBM pada 2014, di 2015 kita perkirakan inflasi dapat ditahan di 5,22 persen, CAD (defisit transaksi berjalan) dibanding PDB akan minus di -2,74 persen,” ujarnya.

Pada skenario kedua, menurut Destry, jika harga BBM dinaikkan pada awal 2015, inflasi pada 2015 akan melonjak ke 8,84 persen, dan defisit neraca transaksi berjalan akan tetap minus, meskipun berubah di -2,67 persen.(I029)

()

(Eka)