Jakarta, Aktual.co — Mantan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R. Sukhyar angkat bicara terkait tudingan miring Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) kepada Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Sukhyar, Hatta tidak melakukan intervensi bahkan tidak terlibat dalam penyusunan Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. Aturan itu antara lain melarang ekspor mineral mentah dan mengizinkan ekspor mineral olahan alias konsentrat hingga 2017.

“Tidak benar pernyataan pak Faisal itu. Pak Hatta sama sekali tidak terlibat dalam perumusan aturan larangan bauksit karena Permen 1 tahun 2014 itu karya saya dan tim teknik ESDM. Jadi salah besar itu,” kata Sukhyar kepada Aktual melalui pesan singkatnya di Jakarta, Selasa (26/5).

Sukhyar menjelaskan dalam Permen ESDM 1/2014 itu hanya bauksit hasil pemurnian saja yang dizinkan untuk diekspor. Pasalnya produk bauksit tidak memiliki hasil olahan melainkan langsung pada hasil pemurnian. Perumusan Permen 1/2014 itu pun melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di antaranya asosiasi tambang dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

“Jadi tidak ada intervensi apapun dalam perumusan Permen 1 itu,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Faisal menuding Hatta Rajasa sebagai biang keladi kekacauan industri bauksit nasional. Kekacauan tersebut bermula pada masa pencalonan Hatta Rajasa menjadi calon wakil presiden 2014 lalu, dimana Hatta melarang ekspor mineral mentah (raw material) termasuk bauksit hingga akhirnya tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 terbit pada tanggal 12 Januari 2014.

Faisal basri menuding, pelarangan tersebut terkait permintaan perusahaan alumunium terbesar di Rusia, UC Rusal. Perusahaan tersebut ingin membangun pabrik di Kalimantan, namun mereka ingin mengurangi jumlah bauksit yang beredar di dunia hingga 40 juta ton. Dampaknya harga alumina Rusal melonjak.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka