Jakarta, Aktual.co — Pelaksanaan eksekusi mati yang telah dilakukan terhadap pengedar narkoba belum dapat menekan peredaran narkoba apabila tidak disertai edukasi di internal keluarga, kata seorang kriminolog.
“Saya kira dengan eksekusi mati saja tidak cukup menghentikan peredaran narkotia, tanpa adanya peran aktif keluarga,” kata kriminolog dari Univerisitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto di Yogyakarta, Jumat (13/2).
Menurut dia, pemberian pemahaman mengenai bahaya narkoba sejak dini di internal keluarga serta lingkungan, merupakan upaya mendasar untuk menekan penggunaan narkotika.
Banyaknya peredaran narkoba, dinilainya sebagai bukti kegagalan orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anaknya.
“Karena lingkungan juga turut mewarnai, orangtua sudah sepatutnya menyadari bahwa pengawasan kepada anaknya untuk menjauhi narkoba merupakan tanggung jawab yang perlu terus ditingkatkan,” kata dia.
Edukasi di internal keluarga mengenai bahaya narkoba, menurut dia menjadi solusi yang paling efektif untuk saat ini, mengingat peredaran narkoba sudah semakin sulit dicegah dan dapat ditemukan dengan mudah. “Peredarannya sudah hampir tidak bisa dicegah,” katanya.
Lima orang terpidana mati kasus narkoba telah menjalani eksekusi di lapangan tembak Limusbuntu yang berdampingan dengan Pos Polisi Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (18/1) pukul 00.30 WIB.
Lima terpidana mati itu terdiri atas Ang Kim Soei (62) warga negara Belanda, Namaona Denis (48) warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara Nigeria dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia.
Selain itu, seorang lagi napi narkoba Tran Thi Bich Hanh (37) warga Vietnam dieksekusi mati di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby














