Jakarta, Aktual.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disertai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai momentum untuk mereset tata kelola pasar modal nasional. Menurutnya, situasi tersebut justru membuka ruang pembenahan struktural yang selama ini menjadi catatan investor global.
“Kita tidak perlu panik. Peringatan MSCI adalah cerminan yang jujur atas area yang perlu diperbaiki. Ini momentum untuk membangun pasar modal yang kredibel, yang dipercaya investor karena sistemnya kuat, bukan karena spekulasi,” kata Luhut dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, DEN mendukung enam langkah reformasi pasar modal yang disiapkan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Paket kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan investor sekaligus menjaga stabilitas pasar di tengah volatilitas.
Lebih lanjut, reformasi itu mencakup penguatan kewajiban pengungkapan ultimate beneficial owner (UBO) emiten besar dengan mekanisme verifikasi serta sanksi tegas, serta rencana kenaikan ambang batas minimum free float menjadi 15 persen. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperbaiki likuiditas dan kualitas pembentukan harga saham agar lebih mencerminkan fundamental perusahaan.
Selain itu, Luhut mendorong percepatan demutualisasi BEI guna meminimalkan konflik kepentingan dan memperkuat independensi tata kelola bursa. Ia juga mendukung peningkatan peran investor institusi domestik melalui kenaikan batas investasi saham bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi hingga 20 persen, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Perlindungan investor dan stabilitas pasar menjadi prioritas utama,” ujarnya. Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pengawasan diperlukan agar anomali harga dan transaksi mencurigakan dapat terdeteksi lebih dini.
Berdasarkan pantauan Aktual.com, IHSG pada perdagangan Senin siang sekitar pukul 14.02 WIB berada di level 7.861,27 atau turun 5,62 persen. Indeks acuan tersebut sebelumnya sempat menyentuh level terendah 7.820,22 seiring meningkatnya tekanan jual di pasar.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















