Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi memberikan sambutan dalam gelaran "4th Indonesia-Japan Hydrogen Ammonia Development Acceleration Forum" di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Aktual/Humas Kementerian ESDM

Jakarta, aktual.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pembentukan ekosistem hidrogen di Indonesia agar berjalan seiring dengan Strategi Hidrogen Nasional dan Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan langkah tersebut juga sejalan dengan program Astacita Presiden Prabowo Subianto.

“Langkah ini juga sejalan dengan program Astacita Presiden Prabowo Subianto,” kata Eniya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Eniya menjelaskan, pengembangan hidrogen tidak hanya menjadi instrumen dekarbonisasi, tetapi juga pilar penting dalam transformasi ekonomi dan industrialisasi jangka panjang. Pengembangan tersebut dinilai krusial bagi sektor industri, transportasi, pembangkit listrik, serta sektor-sektor yang berorientasi ekspor.

Menurutnya, ekosistem hidrogen akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong industrialisasi rendah karbon yang memiliki daya saing di pasar global.

“Menurut saya, pada tahun ini, yang merupakan KPI saya, hidrogen hijau harus tersedia di pasar hampir 200 ton per tahun. Kita harus mencapainya dan kita ingin menciptakan lebih banyak,” ujar Eniya saat menjadi pembicara dalam 4th Indonesia–Japan Hydrogen Ammonia Development Acceleration Forum.

Eniya menambahkan, implementasi ekosistem hidrogen akan dilakukan secara bertahap untuk membangun kesiapan regulasi, infrastruktur, permintaan pasar, serta kemampuan domestik. Langkah tersebut dilakukan dengan tetap menjaga fleksibilitas kebijakan dan evaluasi secara berkala.

Ia merinci, implementasi dibagi dalam tiga tahap, yakni fase inisiasi pada periode 2025–2034, fase pengembangan dan integrasi pada 2035–2045, serta fase akselerasi dan keberlanjutan pada periode 2045–2060.

Eniya juga menekankan pentingnya kolaborasi strategis dengan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Kerja sama tersebut menggabungkan keahlian teknologi, pengalaman pengembangan proyek, serta instrumen pembiayaan Jepang dengan potensi energi terbarukan, skala pasar, dan prospek permintaan jangka panjang di Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano