Beranda Internasional Erdogan Kecam Sikap Yunani Soal Migran

Erdogan Kecam Sikap Yunani Soal Migran

Ankara, aktual.com – Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengkritik Yunani atas sikap bermusuhan mereka terhadap para migran. Erdogan pun menyebut Yunani sudah bersikap melampaui batas.

“Sikap tetangga barat kita Yunani terhadap para migran kini telah mencapai tingkat kebrutalan,” kata dia dalam pidatonya di kongres perdana Konferensi Yurisdiksi Konstitusional Dunia Islam di Istanbul, Jum’at (23/12) kemarin.

Erdogan pun menyinggung sikap negara barat yang cenderung bersikap diam. Salah satu pemimpin populer Islam tersebut Barat menggunakan standar ganda.

“Sayangnya, negara-negara Barat tidak menanggapi ‘kebrutalan’ Yunani ini. Kami semua sangat sedih dengan ketidakpedulian terhadap situasi yang menyayat hati dari garis perbatasan dan tempat penampungan pengungsi yang menyerupai kamp Nazi. Pendekatan serupa juga dapat dilihat dalam perang melawan teroris dengan bersembunyi di balik frase ‘pencari suaka politik’ untuk menampung teroris,” sambungnya.

Erdogan pun menuding negara-negara Barat dan beberapa institusi yang menutup pintu mereka bagi para migran dari Suriah, Irak, dan Afrika menunjukkan ‘tingkat toleransi’ yang tinggi terhadap kelompok teroris PKK dan FETO. Sebab kelompok teror separatis PKK tersebut ditenggarai memang membiayai serangannya ke Suriah, Irak, dan Turkiye dengan menerima dan mengumpulkan sumbangan dari negara-negara tersebut.

“Negara-negara dan institusi Barat mengangkat suara mereka tentang ‘tragedi kemanusiaan’ di Suriah, hanya ketika para pengungsi mengetuk pintu mereka. Alih-alih menemukan solusi untuk krisis, reaksi mereka ditunjukkan dengan mengurung para migran di balik pagar kawat berduri. Demi kemakmuran, keselamatan, dan keamanan mereka sendiri, mereka yang mengabaikan orang tertindas di luar perbatasan mereka telah menampilkan ‘contoh fasisme yang paling primitif’,” ucap Erdogan dilansir dari Anadolu Agency.

Dalam kampanye terornya melawan Turkiye, PKK terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, AS, dan Uni Eropa. Mereka bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40 ribu orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.

Organisasi Teroris Fetullah (FETO) pada 15 Juli 2016, melakukan kudeta di Turkiye, di mana 251 orang tewas dan 2.734 terluka. Ankara menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.

(Megel Jekson)