Jakarta, Aktual.co — Pengamat Energi Yusri Usman mengungkapkan bahwa Menteri ESDM Sudirman Said telah menerima gratifikasi dengan menggunakan private jet yang difasilitasi oleh Petral-PES.
Yusri memaparkan, hal itu bermula dari kedatangan Tim RTKM ke kantor Petral di Singapura pada 9 Maret 2015 bersama Sudirman Said. Namun ternyata pada akhirnya tim hanya didampingi Direktur Umum Pertamina Dwi Daryoto dan Vice President ISC Daniel Purba. Sementara Menteri ESDM Sudirman Said bertolak berangkat ke Lhokseumawe, Sumatera Utara untuk mendampingi Presiden RI Joko Widodo. Dalam perjalanannya dari Singapura menuju Lhokseumawe, Mantan bos PT Pindad ini mencarter pesawat khusus Gulfstream G-550 dengan biaya carter 35.750 dolar AS (dengan kurs Rp.13.200 menjadi setara Rp.471.900.000) dan biaya tersebut ditagihkan ke Petral Singapura.
Menanggapi hal itu, Mantan anggota tim Reformasi Tata kelola Migas (RTKM) Fahmy Rahdi tidak sepakat jika Menteri ESDM Sudirman Said dikatakan menerima gratifikasi. Fahmy juga meminta Yusri untuk membuktikan keabsahan sekaligus mempertanggung jawabkan dokumen yang dimilikinya itu.
“Nah kalau itu saya tahu info valid-nya, data dari Yusri Usman yang diangkat ke publik itu tidak benar sama sekali, saya mendapat info valid itu justru dibiayai Pertagas (anak usaha Pertamina),” kata Fahmy saat berbincang dengan Aktual di Jakarta, Senin (1/6).
“Yusri Usman harus mempertanggung jawabkan itu. Kalau memang punya data dokumen pembayarannya, coba diungkap ke publik kebenaran datanya,” imbuh dia.
Fahmy menilai, Yusri Usman justru layaknya orang yang kebakaran jenggot ketika Petral mau dibubarkan.
“Apa motivasinya itu tidak jelas, siapa dia juga tidak jelas. Sepertinya dia salah satu pihak yang pro keberadaan Petral,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















