Jakarta, Aktual.co — Bagaimana satwa zebra memperoleh garis-garis pada tubuhnya? Sulit untuk mendapatkan jawaban yang pasti terhadap garis warna hitam-putih di tubuh zebra.
Beberapa ilmuwan mengatakan, bahwa garis-garis pada zebra merupakan bentuk kamuflase yang melindungi zebra dari buruan hewan pemangsa singa. Namun, peneliti lain mengatakan warna tersebut adalah kunci untuk ritual kawin zebra.
Tahun 2014 lalu, para peneliti yang mempublikasikan hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa garis-garis pada zebra berguna untuk mengusir serangan lalat yang menggigitnya. Sehingga melindungi hewan tersebut dari penyakit yang dibawa lalat.
Tapi, sebuah studi baru memberikan informasi yang berbeda dengan hasil riset sebelumnya, bahwa garis-garis pada zebra membantu satwa itu tetap stabil suhu tubuhnya di habitatnya atau melindungi hewan tersebut dari panasnya terik sinar Matahari.
“Kami menemukan bahwa suhu merupakan indikator penting bagaimana zebra di darat memiliki garis-garis,” terang Dr. Brenda Larison, asisten peneliti dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat sekaligus penulis dalam studi tersebut, mengatakan kepada The Huffington Post dalam surat elektronik-nya.
“Zebra di kawasan dengan suhu dingin musiman yang bergaris relatif kurang dari mereka yang ada di daerah dengan suhu hangat yang tinggi berkelanjutan.”
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis variasi garis-garis yang terlihat di habitat zebra di 16 wilayah Afrika. Kemudian, para peneliti mengkaji hubungan antara pola garis dengan 29 variabel lingkungan, termasuk iklim periode serangan lalat.
Lalu, apa yang ditunjukkan oleh riset peneliti? Ternyata banyaknya jenis corak berkorelasi lebih dekat dengan cuaca panas dibandingkan dengan variabel lingkungan lainnya. Dengan kata lain, habitat yang panas, dimana satwa zebra tinggal lebih cenderung memiliki garis-garis yang banyak.
Salah satu hipotesis untuk korelasi tersebut yakni, garis-garis hitam dan putih yang menebal, dimana suhu dingin menciptakan arus konveksi di udara sekitar tubuh hewan zebra. Artinya, udara bergerak lebih cepat menjadi garis-garis hitam, dimana sinar Matahari menyerap dan lebih lambat dari garis-garis putih dimana aliran suhu dingin masuk ke tubuh zebra, demikian National Geographic melaporkan.
Memang, observasi awal menggunakan alat termometer digital menunjukkan, bahwa zebra di daerah rerumputan, mempertahankan secara signifikan lebih rendah suhu tubuhnya (84,6 derajat Fahrenheit) ketimbang antelop kerabat sejenisnya, yang memiliki ukuran kulit warna cokelat (90,5 derajat).
Menurut Larison, bukan berarti misteri pada garis-garis zebra akhirnya terjawab.
“Kita harus memberikan semua hipotesis untuk zebra bercorak dengan pertimbangan jawaban yang pasti,” katanya dalam email.
“Kami tidak melihat salah satu hipotesis bisa menjawab dengan pasti dan tidak ada alasan untuk berpikir harus ada hanya satu jawaban.”
Studi ilmiah tersebut dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Open Science pada 14 Januari 2015 lalu.
Artikel ini ditulis oleh:














