Jakarta, Aktual.com – Penyelenggaraan Festival ‘Ngopi Sepuruh Ewu’ yang digelar Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, terakhir pada 5 November 2016 diakui para pebisnis kopi di daerah itu telah mendongkrak penjualan.

Jajang Nuryaman (25), salah satu wirausahawan kopi asal Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, di Banyuwangi, Minggu mengemukakan penjualan kopinya naik hingga 50 persen, dari biasanya hanya laku 10 kg (setara 40 pak) kini bisa mencapai 15 kg (setara 60 pak) per bulan.

“Alhamdulillah, kopi saya semakin laris sejak ada festival ngopi,” kata pemilik merek Traditional Coffee Manjehe itu ditulis Minggu (6/11).

Menurut Jajang, setiap pak dihargai bervariasi sesuai dengan jenisnya. Misalnya, untuk Kopi Arabica dia mematok Rp45 ribu per pak, Robusta Rp30 ribu, Kopi Lanang Robusta Rp45 ribu, Kopi Lanang Arabica Rp60 ribu, dan Kopi Luwak Rp250 ribu.

Ia bercerita bisnisnya ini merupakan usaha keluarga yang telah dirintis sang ayah sejak 11 tahun silam. Kala itu, ayahnya hanya melayani pemesanan bubuk kopi untuk warga lokal Banyuwangi. Dalam sebulan, kopi yang dijual ayahnya sebanyak delapan kilogram bubuk kopi dalam kemasan plastik sederhana. Kopinya diambil dari perkebunan Kalibendo, yang terletak di lereng kaki Gunung Ijen.

Menurut Jajang, ayahnya juga adalah seorang roaster (penyangrai kopi) tradisional yang andal. Banyak warga membeli kopi ke ayahnya, lantaran cita rasanya yang nikmat karena ayahnya dinilai menguasai teknik penyangraian kopi yang tepat.

“Orang-orang bilang kopi ayah enak. Saya pun berpikir kenapa tidak mengembangkan bisnis ini. Teman-teman juga menyemangati saya agar meneruskan usaha ayah. Dari sanalah, saya tertarik untuk terjun ke bisnis kopi, apalagi sekarang ada festival ngopi yang membuat kopi Banyuwangi semakin diminati,” tutur Jajang.

Jajang akhirnya memutuskan untuk mulai mengembangkan usaha orang tuanya sejak dua tahun silam. Pertimbangannya, seiring pamor kopi Banyuwangi yang mulai naik, perkembangan wisata Banyuwangi yang juga semakin meningkat otomatis akan menumbuhkan pasar baru bagi kopi Banyuwangi.

Hal pertama yang dilakukan Jajang adalah melakukan pengemasan produknya meningkatkan nilai jual produk agar bisa bersaing dengan yang lain. Kopi olahannya lalu diberi merek Manjene, dengan pembungkusan yang lebih atraktif dan higienis.

Selain melakukan pengemasan yang menarik, lanjut dia, Jajang juga memastikan kualitas produknya menjadi lebih baik. “Rasanya saya jamin enak, karena kami memiliki teknik penyangraian yang berbeda. Kami perhatikan semuanya, mulai dari suhu, tingkat kematangan, hingga bahan bakarnya. Kami menyangrainya pakai kayu bakar, bukan kompor. Kayunya pun bukan kayu sembarangan, tapi ada jenis-jenis tertentu, sehingga dihasilkan kopi yang enak dan harum,” ujar dia.

Ada tujuh varian kopi yang ia jual, yakni, Arabica, Robusta, Kopi Lanang Robusta, Kopi Lanang Arabica, Kopi Luwak, Houseblend Arabica dan Robusta, serta Houseblend Robusta dan Eselsa.

“Biji kopinya kami beli dari petani kopi di seluruh Banyuwangi, jadi benar-benar kopi khas Banyuwangi,” katanya.

Dengan cara seperti itu, katanya, pasar kopinya makin meluas, tak hanya dijual di toko milik keluarga, tapi juga di sejumlah distro di sekitar Banyuwangi dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Kampung Anyar. Tak hanya itu, Jajang juga mulai menawarkan produknya melalui media sosial seperti BBM, WA, facebook, ninstagram, line dan path.

“Sekarang yang beli kopi Manjehe bukan hanya warga lokal, tapi juga wisatawan domestik dan turis asing yang sedang berlibur ke Banyuwangi. Senang sekali, berkat pariwisata Banyuwangi semakin berkembang, usaha kami juga ikut terangkat,” katanya.

Muhammad Efendi, pelaku usaha kopi di Banyuwangi juga merasakan peningkatan penjualan kopinya sebagai dampak dari Festival Ngopi. Pemuda asal Desa Kemiren ini mengaku penjualan kopi di karang tarunanya meningkat dari hanya 45 pak, kini bisa laku hingga 80 pak per bulan. Ia mematok harga Rp30 ribu per pak (250 gram) untuk Robusta, dan Rp35 ribu per pak (125 gram) untuk Arabica.

“Bahkan kalau pas ada kegiatan, kami bisa menjual sampai 30 pak per hari,” katanya.

Banyuwangi sendiri memproduksi kopi 9.000 ton/tahun. Kopi yang diproduksi terdiri dari 90 persen jenis robusta dan 10 persen jenis arabica. Data mencatat produksi kopi di Banyuwangi mencapai 8.047 ton pada 2015, meningkat dari tahun 2014 yang 7.992 ton. Angka produktivitasnya mencapai 19,49 kwintal per hektare.

(Eka)