Ankara, aktual.com – Seorang bos mafia ternama asal Turki yang tertangkap di Argentina mengaku bahwa dia diminta oleh pemerintah Turki untuk membunuh Andrew Brunson, seorang Pendeta Amerika yang menghabiskan sekitar dua tahun di penjara Turki atas tuduhan terorisme dan tuduhan terkait spionase.

Kurtulus mengungkapkan hal itu dalam sebuah wawancara pada 22 Juli 2020 lalu dengan media lokal Argentina.

“Partai AKP ingin membunuhnya [Brunson] dan menyalahkan Fethullah Gulen dan pengikutnya. […] Mereka tidak menawarkan saya uang. Mereka hanya ingin menggunakan orang-orang seperti saya, ”kata Serkan Kurtulus seperti dilansir Zaman, Kamis(6/8).

Fethullah Gulen dan pengikutnya disudutkan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan dituduh melakukan upaya kudeta yang gagal pada musim panas 2016. Namun, kelompok ini telah menyangkal segala keterlibatan dalam peristiwa itu.

Kurtuluş merupakan pemimpin gangster yang bermarkas di provinsi Turki Barat, İzmir, mereka memiliki wilayah kekuasaan di Istanbul, Ankara, Bursa, Muğla, Artvin, dan Trabzon.

Di Turki, Kurtulus dicari atas beberapa dakwaan berat, termasuk dugaan memasok senjata api ilegal ke kelompok bersenjata di Suriah dan keterlibatan dalam pembunuhan seorang pilot Rusia pada 2015.

Kurtulus dilaporkan melarikan diri dari Turki pada 2018. Ia lantas menjadi buruan Interpol dan kemudian ditangkap di Argentina pada Juni 2020, seperti dilansir Euronews .

Sedangkan Pendeta Brunson dipenjara oleh Turki pada Oktober 2016 karena tuduhan mata-mata dan memiliki hubungan dengan kelompok Gulen. Namun, para pejabat AS menduga dia ditangkap karena statusnya sebagai pastor kristen dan dijadikan sebagai alat tawar-menawar yang potensial.

Itu karena, Presiden Recep Tayyip Erdoğan berulang kali menuntut ekstradisi ulama yang berbasis di AS Fethullah Gülen sebagai syarat pembebasan Brunson.

Di tengah meningkatnya tekanan oleh Trump serta Wakil Presiden Mike Pence yang mengancam Turki dengan sanksi, Brunson pertama kali dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah pada Juli 2018 dan kemudian dibebaskan pada Oktober 2018.

Presiden Trump mengatakan “tidak ada kesepakatan” di balik pembebasan Brunson, tetapi berulang kali berterima kasih kepada Erdogan. (ESH)

(Tino Oktaviano)