Jakarta, Aktual.co — Gas 3 kg di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi langka setelah kenaikan harga elpiji 12 kg dari Rp150.000 menjadi Rp165.000.
“Mulai 1 Januari 2015 harga gas 12 kg naik. Akibatnya, pelanggan beralih ke gas 3 kg, karena lebih murah,” kata pemilik Pangkalan LPG Pertamina Region I Tanjungpinang Piter, Sabtu (10/1).
Ia menambahkan gas 12 kg semakin tidak laku terjual akibat harganya semakin tinggi. Selisih harga yang jauh antara gas 12 kg dengan gas 3 kg membuat pelanggan enggan membeli gas 12 kg.
Harga tabung beserta gas 3 kg saat ini mencapai Rp200.000, sedangkan harga gas isi ulang Rp15.000 Persediaan elpiji 3 kg, kata dia sebenarnya mencukupi untuk masyarakat kurang mampu, namun menjadi langka karena hampir seluruh pelanggan mengincar gas yang disubsidi pemerintah itu. Seharusnya gas 3 kg itu untuk keluarga kurang mampu.
“Kami tidak dapat menghalangi pembeli dari keluarga mampu untuk membeli LPG 3 kg,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Usman, pedagang gas eceran di KM 8 Tanjungpinang. Dia menambahkan gas 3 kg menjadi langka.
Pihak pangkalan atau pun agen gas hanya mengizinkan pedagang eceran membeli dua tabung gas 3 kg, padahal sebelum Januari 2015 pedagang bisa membeli tujuh tabung gas.
“Gas 3 kg menjadi langka sekarang,” ujar dia.
Darmi, salah seorang ibu rumah tangga di Jalan Kota Piring Tanjungpinang berharap pemerintah mengontrol perdagangan 3 kg. Pemerintah juga sebaiknya mengevaluasi kebijakan menaikan harga gas LPG 12 kg, karena selisih harganya terlalu jauh dibanding 3 kg.
“Selisih harga yang jauh itu membuat konsumen beralih ke gas 3 kg,” ucapnya.
Menurut dia, kenaikan harga LPG 12 kg itu terlalu tinggi, sementara bahan bakar itu dbutuhkan setiap hari.
“Wajar jika masyarakat dari kalangan menengah ke atas menggunakan gas 3 kg,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh: