Jakarta, Aktual.com – Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan potensi cadangan gas metana hidrat di Indonesia diperkirakan mencapai volume yang cukup besar yakni mencapai 850 triliun kaki kubik (TCF), sehingga dapat menjadi solusi pemenuhan kebutuhan energi bersih pada masa depan.

“Jumlah (850 TCF) tersebut setara dengan delapan kali lipat cadangan gas alam saat ini, sehingga kita berharap sumber energi alternatif baru ini akan mendukung ketahanan energi nasional,” katanya saat acara “Legal and Policy Framework for the Development of Offshore Methane Hydrate as the Indonesia’s Future Transitional Clean Energy” secara daring, Selasa (8/6).

Dikutip dari laman Kementerian ESDM di Jakarta, Selasa (8/7), Menteri Arifin mengatakan transisi dari energi fosil menjadi Energi Baru dan Terbarukan (EBT), yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan, menjadi arah kebijakan energi nasional.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu usaha mencari energi baru pengganti fosil untuk dapat memenuhi kebutuhan energi yang makin meningkat.

Di Indonesia, menurut dia, pada penelitian tahun 2004, telah ditemukan potensi cadangan gas metana hidrat sebesar 850 TCF.

Menteri ESDM mengatakan pengembangan gas metana hidrat merupakan opsi energi yang lebih bersih bila dibandingkan dengan minyak bumi dan batu bara.

Ekstraksi dan produksi gas metana hidrat mampu menjadi salah satu sumber pendapatan negara dan berperan dalam bauran energi.

“Indonesia perlu segera mengembangkan di mana ekstraksi dan produksinya akan memberikan solusi penyediaan energi baru, menjadi salah satu sumber pendapatan negara, dan dapat berperan dalam bauran energi masa depan Indonesia,” imbuhnya.

Menteri Arifin menekankan pentingnya analisis hukum dan kebijakan yang terintegrasi untuk memastikan pengembangan gas metana hidrat tetap sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Kegiatan pengembangan metan hidrat harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakter fisik gas hidrat, isu lingkungan hidup, teknologi dalam mengekstraksi metana hidrat, serta nilai keekonomian dan kemampuan industri hulu migas nasional,” ujarnya.

Melihat urgensi pemanfaatan gas metan hidrat, Menteri Arifin menegaskan perlunya memperkuat kerja sama multisektoral dalam mendorong proses transisi energi.

“Untuk itu, kami sangat mengharapkan dukungan stakeholder, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mencapai tujuan transisi energi, termasuk potensi pemanfaatan gas metana hidrat untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Pada webinar tersebut, Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan potensi 850 TCF itu berada di dua lokasi utama.

“Berdasarkan survei awal di tahun 2004, potensi cadangan metana hidrat ada di dua lokasi utama, yaitu perairan selatan Sumatera sampai ke arah barat laut Jawa sebesar 625 TCF dan di Selat Makassar sebanyak 233,2 TCF,” jelasnya.

Selain itu metana hidrat juga tersebar di lepas pantai Simeuleu, Palung Mentawai, Selat Sunda, Busur Depan Jawa, Lombok Utara, Selat Makassar, laut Sulawesi, Aru, Misool, Kumawa, Wigeo, Wokam, dan Salawati.

Webinar ini menjadi diskusi metana hidrat skala besar pertama di Indonesia. Kepala Biro Hukum Kementerian ESDM M Idris F Sihite mengatakan keingintahuan peserta kali ini tidak hanya bagaimana memanfaatkan gas metana hidrat, namun hingga kepada kebijakan dan aspek hukum yang akan digagas pemerintah.

“Dengan peserta yang terdaftar mencapai 1.100 orang, menunjukkan ada antusiasme dari peserta, tidak hanya dari sisi keingintahuan mereka, mengenai bagaimana mengembangkan metana hidrat di Indonesia, namun juga seperti apa kebijakan dan aspek hukum yang akan digagas pemerintah. Acara ini memiliki manfaat yang besar dan luar biasa bagi Indonesia. Apa yang kita peroleh hari ini tentu menjadi salah satu landasan bagi pemerintah merumuskan kebijakan pemanfaatan metana hidrat,” katanya.

Salah satu narasumber webinar, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Doddy Abdassah memaparkan gas metana hidrat merupakan sumber daya hidrokarbon nonkonvensional terbesar dan dapat diproduksi secara aman.

Diperkirakan lebih dari 50 persen deposit hidrokarbon bumi tersimpan dalam bentuk gas metana hidrat.

Menurut dia, dibutuhkan analisis yang komprehensif dan terintegrasi dalam eksplorasi dan produksinya, serta riset dan pengembangan teknologi untuk komersialisasi produksi gas metana hidrat.

Indonesia, lanjut Doddy, sangat berpeluang untuk memanfaatkan potensi gas metana hidrat dan harus segera memanfaatkan peluang ini untuk menuju energi fosil yang hijau.

Narasumber lainnya, Professor of International and Comparative Law, School of Law, University of Aberdeen Andrew Partain menjelaskan lokasi-lokasi potensi gas metana hidrat secara global, termasuk di Indonesia.

Partain juga memberi masukan terkait pembangunan berkelanjutan untuk hidrat lepas pantai (offshore hydrate) di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia perlu bergerak cepat untuk menyiapkan berbagai kebijakan dan kekuatan untuk mengembangkan industri offshore hydrate, mengingat beberapa negara telah mempersiapkan industri ini berjalan pada 2030.(Antara)

(Warto'i)