Jakarta, Aktual.com – Dinas Kesehatan Provinsi Sulaweesi Tenggara (Sultra), mencatat selama 2106 terdapat 277 kasus gizi buruk yang ditemukan di daerah itu. Kasus gizi butuk tersebut tersebar di 17 kabupaten kota yang ada di Sultra.

“Kasus terbanyak ditemukan di Kabupaten Bombana yakni 35 kasus, menyusul Kabupaten Buton 32 kasus, Kabupaten Muna dan Konawe Selatan masing-masing 31 kasus,” ujar Kepala Dinas kesehatan Sultra, dr Asrum Tombili, di Kendari, Minggu (19/2).

Kemudian Kabupaten Kolaka Utara dan Buton Tengah masing-masing 26 kasus, Kota Kendari dan Kabupaten Konawe masing-masing 23 kasus, Buton Selatan 13 kasus.

Selanjutnya Kabupaten Kolaka sembilan kasus, Wakatobi delapan kasus, Kota Baubau dan Kabupaten Muna Batar masing-masing tujuh kasus, Buton Utara tiga kasus, Kolaka Timur dan Konawe Kepulauan masing-masing dua kasus dan Konawe Utara satu kasus.

Menurut Asrum, faktor utama terjadinya gizi buruk di Sultra disebabkan permasalahan ekonomi atau kemiskinan, hal tersebut sangat berkorelasi mengingat makin tinggi angka kemiskinan yang tercermin dari rendahnya tingkat pendapatan, makin tinggi pula potensi terjadinya balita gizi buruk.

“Penyebab lain terjadinya balita gizi buruk adalah pola asuh anak yang salah serta akibat penyakit terutama infeksi,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah provinsi Sultra selama ini memberikan perhatian serius terhadap penanganan kasus gizi buruk dengan menjadikan posyandu sebagai ujung tombak dalam melakukan pelayanan.

“Melalui posyandu, kita bisa memberikan pelayanan terhadap ibu hamil agar intens memeriksakan kehamilan, memberikan makanan tambahan ibu hamil, pemberian unsur zat besi pada ibu hamil, hingga pada paska kelahiran anaknya dengan cara memberikan pengetahuan tentang pemberian asupan gizi yang cukup kepada anak,” katanya.

(Ismed Eka Kusuma)