Jakarta, Aktual.com – Peneliti GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpeluang mencapai 5,6 persen di tengah tekanan ketidakpastian global. Proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga konsumsi, mengoptimalkan belanja negara, dan mempercepat reformasi struktural.
“Pertumbuhan itu mungkin dicapai, tetapi ada prasyarat yang harus benar-benar dijalankan pemerintah,” ujarnya dalam Forum Economic Outlook 2026 oleh GREAT Institute, di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. “Tanpa stimulus yang menjaga daya beli kelas menengah, konsumsi hanya akan bertahan, bukan menjadi penggerak pertumbuhan,” kata Adrian.
Selain konsumsi, belanja pemerintah dinilai memiliki peran strategis meski kontribusinya terhadap PDB relatif kecil. Ekonom tersebut menilai pengeluaran negara yang dilakukan lebih awal dan berkualitas akan memperkuat permintaan domestik.
Dari sisi investasi, ia melihat pola pertumbuhan yang masih fluktuatif akibat ketidakpastian global dan hambatan struktural di dalam negeri. “Investasi sulit tumbuh stabil jika iklim usaha belum direformasi secara serius,” tuturnya.
Ia juga menilai sektor perdagangan tidak dapat lagi menjadi mesin utama pertumbuhan pada 2026 karena fragmentasi global dan normalisasi komoditas. Namun demikian, ia mencatat adanya perbaikan di sektor manufaktur yang tercermin dari ekspansi indeks Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan peningkatan impor bahan baku.
Berdasarkan kajian GREAT Institute, pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,3–5,6 persen dengan catatan tiga prasyarat dijalankan secara konsisten.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain















