Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim dalam konferensi pers, Kamis (26/3/2020) malam di Gedung Grahadi, Surabaya. Foto: Istimewa

Sidoarjo, Aktual.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memastikan suplai dan harga bahan pokok pada awal bulan Ramadhan di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jawa Timur supaya tetap stabil.

“Memasuki awal Ramadhan, saya ingin memastikan bahwa suplai logistik bahan pangan di Pasar Larangan Sidoarjo ini pada dasarnya semua stabil kecuali minyak goreng curah,” ujar Khofifah seusai melakukan peninjauan, Sabtu (2/4).

Ia mengatakan, dalam kesempatan itu dirinya mengecek ketersediaan serta harga bahan pokok mulai gula, beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur dan produk lainnya.

Berdasarkan temuan di pasar tersebut, kata dia, secara prinsip ketersediaan semua stabil dan aman, kecuali minyak goreng curah.

Lebih jauh, Khofifah mengatakan bahwa sebagian besar harga bahan masih sesuai dengan data dari Sistem Informasi Ketersediaan Perkembangan Bahan Pokok (SISKAPERBAPO) per 1 April 2022, harga daging sapi berkisar di Rp113.974 per kg sedangkan daging ayam Rp35.787 per kg.

“Kalau untuk daging sapi, suplai dan harganya stabil. Daging ayam yang sedikit di atas HET. Kemarin masih di standar harga eceran tertinggi (HET), tapi hari ini ada kenaikan Rp3.000 per kilo,” katanya.

Kemudian untuk telur ayam adalah Rp24.086, bawang merah per kg dihargai Rp27.720, bawang putih dihargai Rp25.961 per kg.

“Untuk harga telur ayam di bawah HET sedikit jadi Rp23.000 per kilo. Kemudian bawang merah hari ini stabil, tapi cenderung sedikit mengalami penurunan harga,” kata Khofifah.

Selain itu, harga cabai, gula, dan beras cenderung normal seperti, harga cabai berada di angka Rp39.191 per kg untuk cabai merah besar keriting, Rp48.461 per kg untuk cabai merah besar biasa, dan Rp40.121 per kg untuk cabai rawit.

“Cabe, beras, dan gula stabil dan harganya normal. Pada dasarnya beras dan gula ini kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat. Alhamdulillah, suplai dan harganya stabil,” katanya.

Namun demikian, lanjut dia harga dan suplai minyak minyak goreng curah masih menjadi persoalan, karena saat ini Jatim masih membutuhkan kecukupan dan percepatan suplai untuk minyak goreng curah.

“Jadi ada yang sudah 1 bulan ataupun 2 minggu belum mendapatkan suplai minyak goreng curah. Ini persoalan nasional yang mudah-mudahan bisa disuplai lebih cepat dan lebih merata,” katanya.

Khofifah menyatakan, sebelumnya dirinya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Perdagangan dan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri. Hal tersebut menghasilkan suplai minyak goreng curah dari Kalimantan. Tetapi selanjutnya otoritas pindah ke kementerian lain.

“Jadi waktu itu juga sempat didrop di Pasar Larangan ini adalah minyak goreng curah dari Kalimantan. Kemudian pasokan berikutnya setelah siap, ada perpindahan tanggung jawab dari Kemendag ke Kemenperin. Kita berharap awal Ramadhan ini suplai minyak goreng curah bisa lancar,” ujarnya.

Selain minyak goreng, kata dia, dari penemuan di lapangan, Khofifah mengatakan bahwa minyak goreng kemasan premium juga cukup mahal. Harga beli pedagang saja sudah mencapai lima puluh ribu rupiah per dua liter untuk kemasan premium.

“Dari yang kami lihat di lapangan, minyak goreng dengan kemasan premium harganya cukup mahal karena tadi saya tanya ada yang mereka belinya saja sudah Rp25.000 per liter. Sehingga, pasti mereka menjual ada margin per liter dari yang dari mereka beli,” katanya.

Meski begitu, Khofifah berharap agar selama Ramadhan ini semua bahan pokok bisa stabil suplai dan harganya. Sehingga, tidak akan ada kelangkaan bahan ataupun kenaikan harga yang signifikan.

“Jadi persoalan minyak goreng curah masih menjadi PR kita. Tapi mudah-mudahan memasuki Ramadhan ini bisa segera mendapatkan suplai yang lebih proporsional sesuai dengan kebutuhan minyak goreng di Jawa Timur, yakni 59.000 ton per bulan. Begitu juga bahan lainnya, semoga bisa tetap stabil,” katanya.

Dalam kunjungan ke pasar Larangan Sidoarjo ini gubernur Khofifah didampingi bupati Sidoarjo Moch. Muhdlor, Kadis Perindag Jatim Drajat Irawan serta Karo Perekonomian Iwan.

(Antara)

(A. Hilmi)