Jakarta, Aktual.co — Anggota DPRD Kalimantan Timur Ahmad Rosyidi meminta para guru membatasi murid menggunakan telepon seluler terutama di kelas karena mengganggu proses belajar dan mengajar.
“Teknologi diciptakan untuk memudahkan berbagai aktivitas setiap hari. Bahkan dengan teknologi komunikasi itu orang tua murid dapat mengontrol anak karen beberapa sekolah telah memasang presensi dengan sistem sidik jari yang terkoneksi langsung ke nomor telepon seluler orang tua murid,” katanya di Samarinda, Jumat.
Namun, katanya, di samping kelebihan yang di dapat masih ada beberapa hal yang dikeluhkan ketika teknologi tidak dipergunakan dengan bijak dan tidak ketat diawasi oleh pihak sekolah.
Ia mengatakan sudah menjadi pengakuan orang tua dan guru di sekolah anak yang membawa “handphone” ke sekolah dan menggunakannya saat kegiatan belajar sering menjadi penghambat proses belajar-mengajar. Hal ini ditimbulkan dari gangguan konsentrasi melalui media telepon seluler saat di kelas.
Dia mengatakan seringkali siswa menggunakan handphone pada saat di ruang kelas untuk sekadar bermain dan membuka beberapa aplikasi yang tidak berhubungan tepat saat kegiatan belajar berlangsung.
“Hal yang disayangkan adalah banyak pihak yang tidak tegas dalam hal ini, seringkali anak-anak dibiarkan membawa handphone ke ruang kelas. Kebanyakan yang kentara sekali terlihat diantara pelajar kelas 7 sampai dengan 12 yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perangkat lunak yang umumnya terdapat dalam smartphone mereka,” ujarnya.
Rosyidi yang pernah mengajar di beberapa sekolah mengatakan kondisi seperti ini dapat menganggu jam belajar yang pada akhirnya sekolah sama-sama rugi. Anak tidak mendapat substansi pelajaran.
“Masalah pengalihan konsentrasi belajar seperti ini harus dibenahi di dunia pendidikan termasuk ketegasan tadi,” ujarnya.
Semasa di Dewan Pendidikan Kota pada periode lalu, kata dia, hal yang termasuk dalam evaluasi adalah pengaruh karakter anak terhadap penggunaan handphone di jam belajar.
“Ini sangat merusak karakter sang anak, karena itu sekolah harus betul-betul tegas terhadap sanksi anak yang membawa hp ke sekolah. Banyak kepala sekolah yang tidak tegas, sehingga anak-anak merasa bebas,” katanya.
Meskipun diakui beberapa sekolah ada yang melarang hal itu, katanya, namun seringkali yang menjadi masalah lagi adalah toleransi berlebih dari pihak sekolah yang menggagalkan konsistensi penerapan suatu peraturan.
Toleransi yang begitu besar dengan tidak adanya ketegasan menurutnya berdampak kepada anak-anak yang tidak mendapatkan pelajaran.
Menurut dia Kepala sekolah harus benar-benar tegas menerapkan aturan perihal dampak negatif kepada anak-anak.
“Waktu saya mengajar di tiga SLTA pernah berusaha untuk tegas, tapi ternyata susah. Karena yang tegas hanya saya sedangkan yang lain tidak. Jadi pihak sekolah yang harus tegas. SD masih bisa dikendalikan, SMP juga namun SMA lebih sulit,” ujarnya.
Hal ini, menurut Rosyidi, perlu juga adanya kajian dari kepala sekolah terkait. Kajian tersebut pernah beberapa kali dilakukan termasuk maraknya penggunaan handphone yang mengurangi keabsahan ujian nasional.
Namun, katanya, peran sekolah dalam pencegahan harus menjadi corong utama.
Parahnya lagi itu justru diberikan peluang oleh pihak sekolah, bukan hanya disekolah swasta tapi justru di sekolah negeri. Itu dapat mengubah karakter sang anak, seperti nilai moral kejujuran dari sebuah proses usaha belajar.
“Itu yang mengubah moral, semestinya harus belajar untuk dapat nilai bagus, ini malah tidak lagi berpatok pada hal itu,” kata Rosyidi.

()