Pesawat tempur Israel menjatuhkan lebih dari 80 bom dalam hitungan menit di Lebanon untuk membunuh pemimpin gerakan Hizbullah Lebanon, Hassan Nasrallah, demikian dilaporkan New York Times dengan mengutip dua pejabat militer senior Israel. /ANTARA/foto-Anadolu/py

Beirut, Aktual.com – Hamas di Lebanon pada Sabtu (5/10) pagi mengonfirmasi kematian seorang komandan senior Brigade al-Qassam, yaitu sayap militer Hamas, dalam serangan udara Israel ke kamp pengungsi Beddawi di Lebanon utara.

Serangan udara tersebut menghantam kediaman Saeed Ali, komandan tinggi di Brigade al-Qassam, menurut seorang koresponden Anadolu.

Pengeboman tersebut tidak hanya mengakibatkan kematian Ali. Istrinya, Shaimaa Khalil Azzam, serta kedua putri mereka, Zeinab dan Fatima, juga kehilangan nyawa.

“Serangan udara Israel menghantam kediaman Saeed Ali hingga menyebabkan dia bersama keluarganya syahid,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

“Pimpinan Israel akan menanggung akibat dari keputusan kriminal yang mereka ambil terhadap orang-orang kami,” kata kelompok tersebut.

Sebelumnya pada awal pekan ini, Israel juga membunuh Fatah Sharif, pemimpin Hamas lainnya di Lebanon, melalui serangan udara serupa ke kediaman Sharif di kamp Burj al-Shemali di Lebanon selatan.

Sejak konflik pecah antara Hizbullah dan Israel pada Oktober 2023, Israel melancarkan serentetan serangan udara terhadap para pejabat Hamas dan anggota al-Qassam di Lebanon.

Salah satu serangan yang paling mencolok adalah pembunuhan Saleh al-Arouri, wakil pemimpin Hamas, pada 2 Januari 2024 dalam serangan pesawat tak berawak di pinggiran selatan Beirut.

Hizbullah dan Israel terlibat perang lintas batas sejak Israel mulai menggempur Gaza — hingga menewaskan lebih dari 41.800 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, menyusul serangan kelompok Hamas Palestina ke Israel pada Oktober 2023.

Sedikitnya 2.011 orang tewas, lebih dari 9.500 orang terluka, dan 1,2 juta lainnya mengungsi, menurut pihak berwenang Lebanon.

Komunitas internasional telah memperingatkan bahwa serangan Israel di Lebanon dapat meningkatkan konflik Gaza menjadi perang regional yang lebih luas.

Artikel ini ditulis oleh:

Editor: Sandi Setyawan