Jakarta, Aktual.co — Industri bijih besi PT Sebuku Iron Lateritic Ores Group, di Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menghentikan ekspor konsentrat (hasil pemurnian tahap pertama dari bijih besi) ke China, karena harganya turun.

Manajer Operasional, Henry Yulianto didampingi Human Resources Development/General Affair (HRD/GA) PT SILO, IDK Dharmaja mengatakan, sejak awal September PT SILO menghentikan ekspornya karena harga konsentrat di pasaran jatuh, dari sekitar 35 dolar AS per ton turun menjadi kisaran 20 dolar AS per ton.

“Produk kita masih kalah bersaing dengan produk dari Australia, dan Philipina, dengan kadar Fe 60 persen, sementara produk kita baru maksimal 51 persen kandungan Fe-nya, sehingga harganya turun,” ujarnya ditulis Aktual, Jumat (17/10).

IDK mengaku, sejak dibukanya “kran” ekspor Juni 2014, PT SILO baru dua bulan mengekspor konsentrat ke China, yakni Juli-Agustus 2014.

“Awal September hingga saat ini hanya ada satu kali ekspor. Sekarang pembeli bisa menentukan pasar, bukan pasar yang menetukan pembeli,” tegas IDK.

Pihak manajemen belum memastikan sampai kapan ekspor konsentrat akan dihentikan. Tidak menutup kemungkinan menunggu harga kembali stabil.

Diperoleh informasi, bahwa PT SILO periode 2014 mendapatkan kuota ekspor konsentrat sekitar delapan juta metrik ton, dengan nilai ekspor sekitar 120 juta dolar AS.

Sebelumnya, Henry mengemukakan, untuk mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berupa surat persetujuan ekspor (SPE), manajemen SILO harus membayar uang kesungguhan sekitar 12 juta dolar AS.

Sementara itu, sejak 12 Januari 2014, mulai diberlakukannya Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang diberlakukan per 12 Januari 2014, SILO tidak lagi melakukan ekspor bijih besi.

Setelah pabrik pemurnian tahap pertama dengan nilai investasi 60 juta dolar AS selesai dibangun, SILO mulai melakukan pemurnian berupa konsentrat, dan Juni baru melakukan ekspor.

Tetapi dengan turunnya harga di pasaran, SILO sejak awal September kembali menghentikan ekspor hingga batas waktu belum ditentukan.

()

(Eka)