Jakarta, Aktual.com — Kenaikan harga beras menjelang bulan suci Ramadan dinilai berpotensi memperkuat tekanan inflasi pangan dan mengancam stabilitas ekonomi nasional. Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan, mengingatkan bahwa lonjakan harga pangan kerap luput dari perhatian karena tertutup oleh inflasi umum yang relatif terkendali.
“Harga beras sekarang sudah berada di kisaran Rp15.000 per kilogram dan ini jelas memberi tekanan besar terhadap inflasi pangan,” ujar Deni dalam Media Briefing CSIS Outlook 2026 di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Menurut Deni, beras memiliki bobot besar dalam konsumsi rumah tangga sehingga kenaikan harganya langsung berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah. Tekanan tersebut biasanya meningkat menjelang Ramadan seiring naiknya permintaan bahan pangan pokok.
Ia menjelaskan, dalam kondisi pasokan yang terbatas, gejolak harga beras sangat mudah menyebar ke berbagai daerah. Situasi ini semakin diperparah oleh gangguan produksi dan distribusi pangan di sejumlah wilayah akibat bencana alam yang terjadi belakangan ini.
“Kalau stok di daerah terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga di tingkat konsumen,” katanya.
Selain faktor pangan, Deni juga menyoroti potensi tekanan tambahan dari volatilitas harga energi global. Ketegangan geopolitik internasional dinilai berpeluang mendorong kenaikan harga komoditas strategis secara tiba-tiba, yang pada akhirnya memperkuat tekanan inflasi domestik.
Menurutnya, kombinasi kenaikan harga pangan dan energi dapat menekan daya beli masyarakat secara signifikan. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, risiko ketidakpuasan sosial tidak dapat diabaikan.
Deni menegaskan bahwa pengendalian inflasi pangan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter. Pemerintah perlu mengambil peran aktif melalui kebijakan di sisi pasokan, termasuk menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi pangan menjelang periode konsumsi tinggi.
“Pemerintah harus hadir memastikan pasokan aman dan distribusi berjalan lancar, terutama menjelang Ramadan,” ujarnya.
Stabilitas ekonomi nasional, lanjut Deni, sangat bergantung pada kemampuan negara menjaga harga pangan pokok tetap terkendali. Lonjakan harga beras dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















