Ilustrasi- Kilang Minyak

Jakarta, Aktual.com – Harga minyak naik untuk sesi ketiga berturut-turut pada Jumat, mengabaikan pertumbuhan ekonomi global karena kekhawatiran pengetatan pasokan menopang harga menjelang embargo Uni Eropa yang akan datang terhadap minyak Rusia.

Minyak mentah berjangka Brent meningkat 88 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 111,78 dolar AS per barel pada pukul 06.41 GMT. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 84 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 109,10 dolar AS per barel.

Brent dan WTI berada di jalur kenaikan untuk minggu kedua berturut-turut, didukung oleh proposal Uni Eropa untuk menghentikan pasokan minyak mentah Rusia dalam enam bulan dan produk olahan pada akhir 2022. Uni Eropa juga akan melarang semua pengiriman dan jasa-jasa asuransi untuk mengangkut minyak Rusia. Rencana tersebut masih membutuhkan dukungan suara bulat dari 27 negara di blok tersebut.

“Ada kekhawatiran atas pertumbuhan global dan apa artinya itu bagi permintaan minyak,” kata Warren Patterson yang mengepalai penelitian komoditas ING.

“Namun, larangan Uni Eropa yang membayangi minyak Rusia lebih dari mengimbangi ini untuk saat ini, dan karenanya akan membatasi penurunan harga.”

Saham-saham Wall Street jatuh pada Kamis (5/5) karena investor khawatir bahwa kebijakan bank sentral yang agresif di seluruh dunia yang bertujuan untuk menekan inflasi dapat membelenggu pertumbuhan.

Bank sentral Inggris pada Kamis (5/5) memperingatkan bahwa Inggris berisiko mengalami resesi ganda dan inflasi di atas 10 persen karena menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 2009, naik seperempat poin persentase menjadi 1,0 persen.

Pada sisi pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, Rusia dan produsen sekutu, yang dikenal sebagai OPEC+, setuju seperti yang diharapkan untuk peningkatan bulanan moderat dalam produksi minyak.

Mengabaikan seruan dari negara-negara Barat untuk menaikkan produksi lebih banyak, OPEC+ setuju untuk meningkatkan produksi Juni sebesar 432.000 barel per hari, sejalan dengan rencananya untuk melonggarkan pembatasan yang dibuat ketika pandemi menekan permintaan.

Investor juga mengincar permintaan yang lebih tinggi dari Amerika Serikat pada musim gugur ini, karena Washington mengumumkan rencana untuk membeli 60 juta barel minyak mentah buat persediaan daruratnya.

Sebuah panel Senat AS mengajukan RUU yang dapat mengekspos OPEC+ ke tuntutan hukum atas kolusi dalam meningkatkan harga minyak. Kongres telah gagal meloloskan versi undang-undang selama lebih dari dua dekade, tetapi anggota parlemen khawatir tentang kenaikan inflasi dan harga bensin yang tinggi.

(Arie Saputra)