Ilustrasi

Jakarta, Aktual.com – Harga minyak naik di awal perdagangan Asia pada Rabu (23/11), setelah data industri menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih tajam dari yang diperkirakan pekan lalu, menyoroti pengetatan pasokan menjelang larangan Uni Eropa yang kian dekat dan pembatasan harga G7 pada minyak Rusia.

Minyak mentah berjangka Brent terdongkrak 25 sen atau 0,3 persen, menjadi diperdagangkan di 88,61 dolar AS per barel pada pukul 01.01 GMT. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 35 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 81,30 dolar AS per barel.

Kedua kontrak acuan naik sekitar satu persen di sesi sebelumnya karena Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak dan Aljazair memperkuat komentar dari menteri energi Arab Saudi bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC+, tidak mempertimbangkan meningkatkan produksi minyak. OPEC+ selanjutnya bertemu untuk meninjau produksi pada 4 Desember.

Ketidakpastian tentang bagaimana Rusia akan menanggapi rencana negara-negara Kelompok Tujuh (G7) untuk membatasi harga minyak Rusia semakin mendukung pasar, kata para analis.

Batas harga, belum diumumkan tetapi akan berlaku mulai 5 Desember, mungkin akan disesuaikan beberapa kali dalam setahun, kata seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS pada Selasa (22/11).

“Pedagang memantau dengan cermat ekspor Rusia dan akan mencari seberapa banyak mereka dapat memangkas penjualan luar negeri negara itu sebagai pembalasan, yang bisa menjadi perangsang bullish untuk harga minyak,” kata mitra pengelola SPI Asset Management Stephen Innes dalam sebuah catatan kepada klien.

Mengangkat harga pada Rabu, juga persediaan minyak mentah AS turun sekitar 4,8 juta barel untuk pekan yang berakhir 18 November, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan, menurut sumber pasar.

Para analis yang disurvei oleh Reuters rata-rata memperkirakan penarikan 1,1 juta barel dalam persediaan minyak mentah.

Namun, pada catatan bearish, data API menunjukkan stok sulingan, yang meliputi minyak pemanas dan bahan bakar jet, naik sekitar 1,1 juta barel dibandingkan ekspektasi analis untuk penurunan 600.000 barel.

(Arie Saputra)